Muhammad Arbani Bangun Ekonomi Gotong Royong Lewat BantuCari

3 hours ago 2

SHNet, Jakarta – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan melambatnya pertumbuhan industri startup, pendiri sekaligus CEO BantuCari, Muhammad Arbani, memilih fokus memperkuat kualitas layanan dan membangun dampak sosial yang nyata bagi masyarakat.

Melalui platform BantuCari, Arbani tidak hanya menghadirkan solusi pencarian barang atau orang yang hilang, tetapi juga mengembangkan konsep ekonomi gotong royong digital yang membuka peluang penghasilan tambahan bagi masyarakat, khususnya pelaku sektor informal.

Berawal dari pengalaman pribadi kehilangan barang berharga, Arbani terdorong menciptakan sebuah sistem yang mampu menghubungkan masyarakat dengan bantuan secara cepat, mudah, dan terpercaya. Dari ide sederhana tersebut, BantuCari berkembang menjadi platform digital yang menyediakan berbagai layanan, mulai dari informasi kehilangan barang, pencarian orang, kebutuhan darurat, hingga layanan bantuan cepat lainnya.

Namun, menurut Arbani, misi BantuCari kini telah berkembang lebih jauh dari sekadar membantu proses pencarian.

Saat ini, perusahaan tengah menjajaki kerja sama dengan berbagai pelaku ekonomi rakyat seperti pedagang gerobak, pedagang kaki lima, pengemudi ojek, hingga masyarakat yang memiliki waktu luang dan akses telepon pintar.

Mereka nantinya dapat memperoleh penghasilan tambahan melalui aplikasi BantuCari dengan membantu proses pencarian di lingkungan sekitar.

“Berdasarkan riset kami, sebagian besar pelaku usaha informal sudah memiliki handphone. Mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan melalui aplikasi BantuCari dengan membantu pencarian di area sekitar mereka,” ujar Arbani.

Ia menjelaskan, konsep tersebut merupakan bagian dari visi perusahaan untuk membangun ekonomi gotong royong berbasis teknologi yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Dengan mengusung tagline “Membantu Menggerakkan Perekonomian Arus Bawah”, BantuCari ingin memastikan bahwa manfaat transformasi digital tidak hanya dirasakan oleh kalangan tertentu, tetapi juga masyarakat akar rumput.

“Sekarang hampir semua kalangan memiliki HP. Karena itu, siapa pun pelaku ekonomi, baik formal maupun informal, bisa mendapatkan manfaat dari BantuCari,” katanya.

Di tengah berakhirnya era pertumbuhan startup yang mengandalkan ekspansi agresif dan pendanaan besar, Arbani memilih strategi yang lebih berkelanjutan. Fokus perusahaan diarahkan pada penguatan layanan, efisiensi operasional, serta pengembangan ekosistem berbasis komunitas.

Menurutnya, keberhasilan BantuCari tidak dapat dipisahkan dari peran masyarakat yang selama ini terlibat aktif dalam pengembangan platform. Karena itu, perusahaan terus memberdayakan komunitas lokal, termasuk kreator konten skala mikro dan talenta digital daerah, sebagai bagian dari strategi pertumbuhan.

Semangat #SalingBantuMencariYangHilang yang menjadi identitas BantuCari, lanjut Arbani, tetap menjadi fondasi utama dalam setiap inovasi yang dikembangkan perusahaan.

Nilai gotong royong dan kepedulian sosial tersebut dinilai menjadi kekuatan penting dalam menghadapi tantangan ekonomi digital yang semakin kompetitif.

Selain membangun teknologi, BantuCari juga menerapkan budaya kerja yang kolaboratif dengan menggandeng individu-individu yang memiliki visi serupa dalam menciptakan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Melalui konsep gotong royong digital yang terus dikembangkan, BantuCari berharap dapat tumbuh menjadi lebih dari sekadar platform teknologi. Perusahaan ingin menjadi wadah kolaborasi masyarakat untuk saling membantu sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru yang berkelanjutan.

Dengan mengusung gerakan #SalingBantuMencariYangHilang, BantuCari menargetkan terbentuknya ekosistem digital yang menghubungkan kepedulian sosial dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat, sehingga teknologi dapat menjadi alat untuk memperkuat solidaritas sekaligus meningkatkan kesejahteraan bersama. (Stevani Elisabeth)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan