SHNet, Jakarta-Banyak kritikus sastra menegaskan bahwa sebuah karya fiksi baik cerita pendek (cerpen) maupun novel, sebaiknya mengisahkan sesuatu dengan menampilkan konflik atau perdebatan yang tajam untuk menggiring pembaca pada satu ujung cerita. Mmebangun konflik diantara para tokoh dalam sebuah cerita itu akan sangat menarik. Namun bagi Achmad Fachrodji, Dirut Balai Pustaka yang baru saja meluncurkan novel terbarunya berjudul “Bertabur Tasbih di Lereng Fuji”, rumus konflik tak wajib dalam novel. Bahkan dia ingin menjungkirbalikannya.
“Saya ingin menghilangkan stigma bahwa cerpen maupun novel harus berdarah-darah, penuh konflik dan intrik. Justru saya ingin pembaca novel, khususnya novel karya saya itu tersenyum gembira,” ujar Fachrodji ketika menjawab pertanyaan moderator pada sesi diskusi dan peluncuran novelnya di Gedung Perpusnas, Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (06/05/2026).
Moderator bedah novel, Swary Utami Dewi sempat menanyakan, mengapa novel ini seakan sempurna menggambarkan Hamdhani. Pertanyaan Swary tak lepas dari penilaian pembedah novel, sastrawan Kurnia Effendi yang menilai novel karya Achmad Fachrodji sebagai novel yang ideal dari sisi cerita, mengapa? Karena gambaran keluarga yang baik, sebuah tipikal banyak keluarga di Indonesia dan mungkin mancanegara. Tapi, lanjut sastrawan yang punya nama singkatan KEF ini, “Saya ingin cerita novel maupun cerpen ada konflik, jika perlu banyak konflik yang dibangun.”
Dengan begitu, pertanyaan yang mungkin akan terungkap oleh para pembaca, sudah dijawab lebih awal oleh penulisnya sendiri, Achmad Facridji. Tujuan untuk menghadirkan sebuah cerita yang penuh makna dalam arti mendekati kesempurnaan sebuah keluarga dapat dituangkan dalam novel setebal 470 halaman ini. “Memang sulit mencari kesempurnaan sebuah keluarga, tapi paling tidak kita ingin hal itu ada dan menjadi contoh bagi masyarakat luas,” katanya.
Peluncuran dan bedah novel ini menampilkan dua pembahas yakni sastrawan Kurnia Effendi dan Kepala Perpustakaan Nasional, Prof. Endang Amirudin Aziz. Sebelum sesi bedah novel, hadirin dihibur dengan penampilan grup kolintang, dilanjutkan penampilan musikalisasi Sanggar Matahari, penayangan video kompilasi tentang perjalanan spritual-hijrah beberapa publik figur Jepang dan pembacaan puisi oleh sastrawan Jose Rizal Manua.
Pemberian novel secara simbolis kepada beberapa undangan, salah satunya penyair Taufik Ismail (kedua dari kanan)Mendekati Sempurna
Pembahas, Prof.E.Amirudin Aziz mengatakan, setelah membaca novel ini memang tidak banyak kejutan-kejutan dalam arti konflik antar tokoh yang digambarkan. “Penulis lebih berpern sebagai pendongeng yang menceritakan harmonis dan idealnya keluarga Hamdhani-Fatimah. Jadi, penulis memang sengaja ingin menampilkan keluarga yang mendekati kesempurnaan,” katanya.
Lebih lanjut Amirudin mengatakan, novel yang ditulis Achmad Fachrodji ini masuk kategori novel religi. Jenis novel ini masih banyak digemari pembaca dan penulis menyuguhkan setting lain dari cerita religi ini yakni Jepang. “Bila kita baca, sangat kentara peran diaspora dlama hal ini anak muda bernama Abdul Muis yang dengan talenta dan sikapnya yang terpuji, banyak memengaruhi warga setempat di Jepang. Muis sempat menjadi pendakwah juga. Jadi novel ini sangat cocok juga buat kaum muda,” paparnya.
Apa yang dikemukakan Amirudin senada dengan penilaian Kurnia Effendi yang menyatakan, novel A. Fachrodji ini bertendens. Ada tujuan yang jelas yakni pembaca untuk menghormati etika. Selain novel religi, karya ini karena setting Jepang dan banyak cerita tentang makana, masuk kelompok novel pariwisata dna juga kuliner.
“Saya menduga ini pengalaman pribadi penulis dan juga pengalaman putranya yang mekudian diramu dalam sebuah novel. Karena sang penulis Dirut Balai Pustaka dan membaca banyak novel Pujangga Baru, nuansa pengaruh novel klasik juga terasa, banyak pantun, dan beberapa nama diambil dari penulis Pujangga Baru seperti Abdoel Moeis menjadi Abdul Muis,” ungkap Kurnia Effendi.
Apa yang dipikirkan dan kemudian diwujudkan Achmad Facrodji dalam bentuk karya novel, di tengah kesibukannya memimpin Balai Pustaka ini dipuji sastrawan dan aktor Jose Rizal Manua. Dalam testimoninya di halaman 466 novel ini, Jose yang juga tampil membawakan musikalisasi puisi dalam acara peluncuran dan bedah novel ini mengatakan, novelnya bagus. Banyak pelajaran di dalamnya, terutama untuk pelajar/mahasiswa yang memerlukan sentuhan pendidikan ahlak mulia demi menyongsong Indonesia yang lebih bermartabat. “Kebetulan saya pernah dua kali ke Shibuaya, jadi saya merasakan seakan ikut hadir dalam novel ini. Bahasanya sangat puitis dengan narasi memikat,” katanya dalam testimoni.
Pujian juga ditulis penyair Taufik Ismail dalam testimoninya di halaman 458. Katanya, Achmad Fachrodji berhasil menlis novel bernuansa religi sesuai pengalaamnnya di Jepang. Dengan bahasa yang ringan dan diisi banyak pantun dan puisi khas Jepang (haiku) tenya akan jadi sajian menarik dan layak jadi pilihan pembaca.
“Satu lagi yang patut saya apresiasi dalam penulisan novel ini, penulis mencoba menggandengkan bahasa Minangkabau dengan bahasa Indonesia selain bahas Jepang. ini membuktikan penulis punya kepedulian tinggi dalam upaya pelestarian bahasa ibu yang semkin punah tergerus jaman,”ungkap Taufik Ismail.
Penulis yang juga Dirut Balai Pustaka, AchmadFachrodji saat memberi sambutan dan sedikit proses kreatif novelnyaAchmad Fachrodji yang oleh penyair Taufik Ismail diberi gelar Kaesar Pantun ini menjelaskan, pengalamannya di Jepang. Katanya, Jepang mengajarkan banyak hal yang bisa dipelajari. Saat itu katanya, penulis berdoa semoga ada anaknya suatu saat yang bisa belajar dan bekerja di Jepang. Doa ini dikabulkan kemudian, anak lelakinya mendapat beasiswa dari perusahaan Jepang ternama. Kini ia bekerja dan tinggal di Jepang selama lebih dari 15 tahun, bahkn menjadi pegawai di perusahaan negara Jepang. Pengalaman ayah dan anak inikah yang mewarnai penulisan novel bertajuk “Bartabur Tasbih di Lereng Fuji”.
Dalam acara peluncuran dan bedah novel ini sejumlah tokoh dan kolega Achmad Fachrodji hadir, baik dari kalangan sastrawan-penyair seperti Taufik Ismail danistri, Ketua IKAPI, penulis, sejumlah rekan dosen dari Universitas Mercu Buana, tempat Fachrodji juga mengajar, majelis taklim tempat keluragnya mengaji di Bekasi dan tentunya jajaran pimpinan-wakil dari sejumlah perusahaan milik pemerintah yang kini tergabung dalam Danantara. (sur)


















































