Workshop “Dari Panggung ke Layar: Menelisik Tubuh Sinematik” : Koreografer Mitra dan Penting dalam Pembuatan Film

3 hours ago 4

SHNet, Jakarta- Artis peran dengan beragam profesi, Niken Anjani menilai, posisi seorang koreografer adalah mitra atau partner bagi artis yang dalam peran sebuah film harus membawakan sebuah tarian. Untuk menghasilkan olahtari yang sesuai dengan tuntutan skenario, maka artis atau aktor harus mengikuti apa yang dilatih atau disarankan koreografer.

“Bagi saya, posisi koreografer itu penting banget, apalagi saya bukan penari dan baru belajar menari ketiaka harus memerankan tokoh Lilies yang  bisa menari dalam film Shutter (2025),” ujar artis yang punya nama lengkap Niken Ayu Anjani.

Karena koreografer itu mitra bagi artis peran, maka lanjut Niken, perlu sekali komunikasi yang intens antara artis yang harus memerankan penari di film, dengan koreografer yang membantunya. “Komunikasi itu bisa dimulai dengan obrolon ringan, lalu masuk ke persoalan seni dan olah tari. Dari sini akan tumbuh ikatan emosional  atau bounding. dengan begitu latihan menaripun merasa nyaman,” tutur Niken Anjani.

Niken Anjani mengungkapkan penilaiannya dalam workshop bertema “Dari Panggung ke Layar: Menelisik Tubuh Sinematik” yang diselenggarakan bersama Institut Media Digital Emtek (IMDE) dan Dewan Kesenian Jakarta di SCVT Tower, Jakarta, Kamis (16/04/2026).

Workshop ini menampilkan narasumber Koreografer Siko Setyanto, Koreografer yang juga Dosen IMDE, Ressa Rizky Mutiara, dan artis Niken Anjani, dimoderatori Kennya Rinonce, dari Komite Tari DKJ. Acara ini  digelar dalam rangka Dies Natalis ke-28 IMDE dan dibuka oleh Rektor IMDE, Totok Amin Soefjanto, Ed.D dan dihadiri jajaran Pimpinan IMDE dan juga DKJ seperti, Ketua Komite Tari  DKJ, Josh Marcy dan Komite Tari DKJ, David Tandayu, BEM IMDE, mahasiswa, sanggar tari, dan juga aggota teater Epinasti.

Ressa Rizky Mutiara, koreografer yang melatih Niken Anjani tarian “Japati Kembang Kota” untuk diperankan dalam film horor Shutter mengakui diperlukan ikatan emosional antara koreografer dan artis yang akan berlatih tari agar saat latihan, tidak ada beban yang berat dan hasilnya memuaskan.

“Sebelum saya melatih Niken, saya perlu tahu siapa dia, riwayat hidupnya, film yang dibintangi dan saya pun tonton filmnya. Kemudian saya perhatikan lekuk tubuh, gerakan, dan sebagainya. Setelah itu barulah dimulai komunikasi intens sebelum memulai latihan. Cara seperti ini memudahkan saya dan juga meringankan Niken,” ungkap Ressa.

Tari “Japati Kembang Kota” kata Ressa tidak murni tari “Jaipong” karena dirinya memasukkan unsur klasik tari Sunda. Ini untuk menyesuaikan karakter Lilies yang diperankan Niken Anjani. Lilies dalam film Shutter  yang diadaptasi dari film Thailand ini adalah sosok mahasiswi berprestasi yang berhantu, dan beradu akting dengan Vino G. Bastian dan Anya Geraldine.

Foto bersama usai acara workshop

Pertemuan Dua Industri

Workshop yang dengan tema unik ini semakin menarik karena moderator,  Kennya Rinonce, dari Komite Tari DKJ begitu lincah memandu dan membiarkan peserta bertanya di tengah paparan para narasumber. Tema esensial pun ditanyakan Rinonce pada koregrafer yang tak lain adalah rekannya dari Komite Tari DKJ yakni Siko Setyanto, “Bagaimana memadukan dunia tari dan film?”

Bagi  Siko dua bidang yang semula berbeda latar dan panggung, kini bisa menyatu di layar lebar, dibutuhkan komitmen dari artis dan koreografer untuk merealisasikan apa yang diinginkan sutradara dalam satu adegan film. “Kita kan di hayer atau diperkerjakan, maka kita harus komitmen mewujudkannya.”

Selain komitman lanjut Siko, perlu kesadaran yang tinggi, terutama dari artis atau kalangan cinema, bahwa untuk menghasilkan sebuah tarian yang akan masuk dalam bagian cerita film, perlu latihan yang serius, sama seriusnya dengan dialog-dialog dalam adegan film. “Jadi, gak bisa diangap enteng, ahh nanti cukup 2-3 kali latihan  beres,” tambahnya.

Siko dan sejumlah koreografer seperti Ressa, Marcy yang menjalin kerja sama untuk pembuatan film dengan beberapa adegan tarian, harus bernegosiasi juga. Apa mauanya sutradara dan bagaiamana posisi atau pandangan kita sebagai koreografer. “Saya harus mendriver tari pada artis/aktor. Jadi proses negosiasi juga bertambah,” katanya.

Sejumlah pertanyaan diajukan hadirin berkaitan dengan tema tari dan hubungan dengan sinema ini. Salah satunya soal apakah dalam proses syutig tari yang dibawakan artis/aktor ada unsur supranatural? Baik koreografer maupun artis Niken Anjani jujur menjawab bahwa tidak ada proses itu. Tapi dalam praktiknya, ketika artis begitu serius membawakan tarian yang sudah beberapa kali latihan, maka energi positif pun menyatu. Jadi energi positif ini yang membuat artis/aktor merasuk makna gerakan yang dibawakannya.

Rektor IMDE, Totok Amin Soefijanto, Ed.D saat memberikan sambutan

Apresiasi Tinggi

Rektor IMDE, Totok Amin Soefijanto Ed.D dalam sambutan pembukaan menyatakan apresiasti yang tinggi atas penyelenggaraan workshop yang sangat menarik ini. Apresiasi bukan saja pada figur-figur dari DKJ dan IMDE yang berperan tapi juga pada BEM IMDE dan Teater Epinasti.

“Hari ini kita mempertemukan dua dunia yang saling memanggil: panggung pertunjukan dan layar sinema. Keduanya berbicara lewat medium yang sama: tubuh. Seperti kata maestro balet Rusia, Mikhail Baryshnikov, “The essence of all art is to have pleasure in giving pleasure.” Tubuh yang menari memberi kenikmatan itu, dan kini kamera memberinya bahasa baru,” papar Totok

Lebih lanjut Rektor IMDE mengatakan, di Indonesia, kita belajar dari Sardono W. Kusumo, yang menegaskan, “Tubuh bukan sekadar alat, tubuh adalah ingatan, sejarah, dan doa.” Maka ketika tubuh panggung bertemu sinematografi, ia tak kehilangan jati diri—ia justru menemukan cara baru untuk mengisahkan ingatan itu.

“Semoga workshop ini melahirkan pembacaan baru atas tubuh sinematik Indonesia: berakar pada tradisi, fasih berbicara lewat teknologi.Rekan-rekan BEM IMDE dan Teater Epinasti selaku pengelola acara; serta seluruh seniman, akademisi, mahasiswa, dan peserta workshop yang hadir,” ujar Totok.

Ketua Komite Tari DKJ, Josh Marcy ketka memberikan sambutan

Ketua Komite Tari  DKJ, Josh Marcy yang ikut memberikan sambutan singkatnya  mengatakan, dunia tari, dunia film dan era digital yang cepat berkembang, memaksa kita untuk saling memahami perubahan yang terjadi.

Tari katanya, dalam perjalanan saaat ini memunculkan potensi lain terkait budaya digital yang memang tak bisa dihindari. “Panggung tari tidak selamanya terbatas pada ruang pentas.  Tari berubah, sinema juga berubah. Yang kita bahas saat ini kolaborasi koreografer, artis yang memerankan tarian dan sinema yang menuntut sajian yang sempurna untuk penonton,” kata Marcy sambil menyinggung drama-drama singkat selama 1-2 menit di media sosial yang begitu digemari masyarakat.

Dalam ungkapan lain, Marcy memberi gambaran dengan kalimat, ” Tubuh, tari bagi bagi kami seperti Alkitab. Sedangkan ruang digital termasuk media sosial memperluas jangkauan. Karena itu yang terbaik mengikuti dan mendiskusikannya sejak sekarang,” katanya. (sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan