AI Ubah Cara Wisatawan Memilih Destinasi, Kepercayaan Tetap Ditentukan Manusia

21 hours ago 9

SHNet, Jakarta – Cara wisatawan memilih destinasi kini mengalami perubahan besar. Jika dulu rekomendasi datang dari keluarga, teman, atau agen perjalanan, kini algoritma media sosial dan mesin pencari semakin menentukan destinasi yang muncul di hadapan calon wisatawan.

Perubahan tersebut mendorong industri pariwisata untuk beradaptasi. Bukan lagi sekadar mempromosikan keindahan destinasi, pelaku industri kini dituntut membangun narasi yang kuat, pengalaman yang autentik, dan kepercayaan di ruang digital.

Menjawab tantangan itu, Kementerian Pariwisata RI mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) melalui peluncuran Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA). Platform yang dapat diakses melalui Indonesia.travel ini dirancang untuk meningkatkan kualitas layanan pariwisata nasional sekaligus menjadi bagian dari program Tourism 5.0 yang berfokus pada digitalisasi sektor pariwisata.

Deputi Pemasaran Kementerian Pariwisata RI, Ni Made Ayu Marthini, mengatakan pemanfaatan AI bukan sekadar mengikuti tren, melainkan kebutuhan untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih personal dan berbasis data.

“Ini bukan sekadar ikut-ikutan tren. Ini fondasi dalam membangun pengalaman wisata yang lebih personal, efisien, dan berbasis data,” ujarnya dalam diskusi Forum Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ngoprek) di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

MaiA dirancang mendampingi wisatawan sejak tahap mencari inspirasi perjalanan, merencanakan, memesan, menikmati pengalaman wisata, hingga membagikannya kepada orang lain. Selain itu, platform ini juga menjadi instrumen penting untuk memahami perilaku wisatawan secara lebih mendalam.

Dalam tujuh bulan sejak diluncurkan pada November 2025, MaiA mencatat sekitar 60 persen pengguna berasal dari pasar domestik dan 40 persen dari mancanegara, dengan pengguna terbesar berasal dari Tiongkok, Singapura, dan Jerman.

Menurut Made, data yang dihasilkan AI mampu memberikan gambaran yang lebih rinci dibandingkan metode survei konvensional. Pemerintah dapat mengetahui tren destinasi favorit, aktivitas yang diminati wisatawan, hingga jenis pengalaman yang mereka cari.

Algoritma mengarahkan pilihan

Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Publik dan Media, Apni Jaya Putra, menjelaskan bahwa masyarakat saat ini hidup dalam ekosistem digital yang dikendalikan oleh big data dan algoritma.

Setiap pencarian, klik, dan interaksi di media sosial direkam untuk membentuk profil pengguna. Profil tersebut kemudian digunakan platform digital untuk menentukan konten yang akan ditampilkan kepada masing-masing pengguna.

Dalam dunia pariwisata, kondisi ini membuat wisatawan semakin dipengaruhi oleh sistem rekomendasi yang dimiliki platform digital global. Destinasi yang muncul di layar, paket wisata yang direkomendasikan, hingga cerita yang viral di media sosial sebagian besar ditentukan oleh algoritma.

Karena itu, tantangan komunikasi pariwisata saat ini bukan hanya menciptakan konten yang menarik perhatian, tetapi juga membangun kepercayaan di tengah derasnya arus informasi.

“Yang lebih penting adalah memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memperkuat kepercayaan publik, bukan menggantikannya,” tegas Apni.

Narasi yang kuat

Di tengah pesatnya perkembangan AI, Brand Strategist dan Founder Konner Advisory, Silih Agung Wasesa, menilai teknologi tidak akan efektif tanpa narasi yang kuat.

Menurutnya, keberhasilan sebuah destinasi atau layanan wisata bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kemampuan memahami kebutuhan dan keresahan wisatawan.

“Kalau narasinya tidak dibangun, AI tidak akan ke mana-mana. Kekuatan storytelling dan pengalaman tetap menjadi kunci untuk membangun citra destinasi di era AI,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa di era digital saat ini, suara yang dianggap paling dipercaya bukan lagi selebritas atau influencer besar, melainkan nano influencer dan komunitas yang dianggap dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Pandangan serupa disampaikan COO ARTOTEL Group, Eduard Rudolf Pangkerego. Menurutnya, AI memang membantu hotel memahami perilaku tamu, memprediksi kebutuhan, dan menyusun strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran.

Namun, ia menegaskan bahwa inti industri pariwisata dan perhotelan tetap berada pada pengalaman manusia.

“Yang membedakan industri hospitality dengan industri lainnya adalah rasa, pengalaman, dan sentuhan manusia. Teknologi bisa dioptimalkan, tetapi yang menentukan kesan bagi tamu tetap manusia,” katanya.

Eduard menambahkan, masa depan pariwisata Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi juga kemampuan manusia membangun kepercayaan dan menghadirkan pengalaman yang berkesan.

AI dapat mempercepat distribusi informasi, algoritma menentukan apa yang terlihat, dan data membantu memahami kebutuhan wisatawan. Namun pada akhirnya, kepercayaan tetap lahir dari pengalaman nyata dan interaksi antar manusia.

Di era ketika mesin semakin pintar, justru sentuhan manusialah yang menjadi pembeda utama dalam industri pariwisata. (Stevani Elisabeth)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan