IMDE Kembali Lanjutkan Rangkaian Lomba Ide Cerita Film Vertikal Sesi 2 Bertajuk “From Idea to Screen: Developing Stories for Vertical Short Film”

8 hours ago 10

SHNet, Jakarta-Institut Media Digital EMTEK (IMDE) kembali melanjutkan rangkaian Lomba Ide Cerita Film Vertikal melalui Mentoring Session 2 bertajuk “From Idea to Screen: Developing Stories for Vertical Short Film” yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom, Rabu (06/08/2026). Kegiatan yang berlangsung selama hampir tiga jam ini menghadirkan Bela Nabila, Penulis sekaligus Executive Producer Vidio, untuk membekali para finalis dalam mengembangkan ide menjadi cerita yang kuat, menyusun alur yang menarik, membangun karakter, serta memahami apa yang membuat sebuah vertical short film layak diproduksi dan diminati penonton di platform digital.

Peserta mentoring merupakan lima kelompok yang terpilih sebagai pemilik ide cerita terbaik dalam Lomba Ide Cerita Film Vertikal. Kelima finalis tersebut adalah Hik Hik Ya dari SMKN 1 Klaten, 7 Harian dari SMKN 65 Jakarta, Biru di Ujung Kelabu dari SMK Immanuel 2 Kubu Raya, Kalimantan Barat, Pintu Seberang Pagar dari MAN 2 Tulang Bawang, Lampung, serta Lonceng Anjelus dari SMK Santa Maria Monte Carmelo, Maumere, Nusa Tenggara Timur. Seluruh finalis mendapatkan pendampingan intensif sebagai bekal sebelum memasuki tahap produksi film.

Lomba Ide Cerita Film Vertikal merupakan kolaborasi antara Institut Media Digital EMTEK (IMDE) dan Frans Seda Foundation yang didukung oleh Superbank dan Vidio. Kompetisi ini mengangkat tema keberagaman yang terinspirasi dari Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta sebagai simbol persatuan dalam keberagaman.

Dalam sesi mentoring, Bela Nabila menekankan bahwa tantangan terbesar dalam membuat film pendek justru terletak pada keterbatasan durasi. Menurutnya, semakin singkat sebuah film, semakin besar pula tantangan untuk menyampaikan cerita secara utuh.

“Dalam film pendek berdurasi lima menit, tantangan terbesar justru ada pada keterbatasan waktunya. Semakin pendek durasinya, semakin sulit menyampaikan cerita secara utuh. Karena itu, saya menyarankan tiga fondasi utama, yaitu cerita yang berfokus pada karakter, berlangsung dalam satu momen, dan berada di satu lokasi. Dengan begitu, penonton dapat mengikuti perjalanan karakter secara lebih jelas tanpa terdistraksi oleh terlalu banyak peristiwa atau perpindahan tempat,” ujar Bela Nabila.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan film pendek tidak ditentukan oleh banyaknya adegan atau kompleksitas cerita, melainkan oleh kemampuan pembuat film menyampaikan emosi secara efektif dalam waktu yang sangat terbatas.

“Semakin pendek durasi film, semakin besar tantangan untuk bercerita. Kuncinya adalah fokus pada satu karakter, satu momen, dan satu lokasi agar cerita tetap efektif, emosional, dan mudah diterima penonton.”

Menurut Bela, banyak pembuat film pemula sering kali ingin memasukkan terlalu banyak konflik, karakter, maupun perpindahan lokasi dalam satu karya berdurasi singkat. Padahal, pendekatan yang sederhana justru mampu menghasilkan cerita yang lebih kuat.

“Film pendek lima menit menuntut pembuat film untuk berpikir sangat efisien. Jangan mencoba memasukkan terlalu banyak karakter, konflik, atau lokasi. Fokuslah pada perjalanan satu karakter dalam satu momen dan satu lokasi. Pendekatan ini membuat cerita lebih padat, emosi lebih terasa, dan pesan yang ingin disampaikan dapat diterima penonton dengan lebih kuat,” jelasnya.

Lanjutan Pembekalan

Sementara itu, Ketua Pelaksana Lomba Ide Cerita Film Vertikal, Teguh Setiawan, menjelaskan bahwa sesi mentoring kedua ini merupakan lanjutan dari pembekalan sebelumnya yang berfokus pada aspek teknis produksi film. Kali ini, peserta diarahkan untuk memperkuat kualitas cerita sebagai fondasi utama sebuah film pendek.

“Ini merupakan sesi mentoring lanjutan. Pada sesi sebelumnya, para finalis telah mendapatkan pembekalan mengenai teknik produksi film. Sementara pada sesi kali ini, fokus pembahasan diarahkan pada pengembangan ide cerita agar dapat disampaikan secara efektif dalam durasi film yang terbatas. Melalui pembekalan ini, kami berharap setiap tim mampu menghasilkan karya yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memenuhi standar produksi yang baik, sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan optimal oleh penonton,” ujar Teguh Setiawan.

Teguh juga menyampaikan bahwa setelah menyelesaikan rangkaian mentoring, para finalis akan memasuki tahap produksi film. Sebagai bentuk dukungan terhadap proses kreatif para peserta, penyelenggara memberikan subsidi produksi kepada setiap tim finalis.

“Setelah menyelesaikan rangkaian mentoring ini, para finalis akan memasuki tahap produksi film. Untuk mendukung proses tersebut, setiap tim finalis akan memperoleh subsidi produksi dari penyelenggara sebagai bentuk komitmen dalam mendorong lahirnya karya-karya film pendek berkualitas yang siap berkompetisi pada tahap penilaian berikutnya,” tambahnya.

Melalui rangkaian mentoring yang berlangsung hampir tiga jam ini, IMDE bersama Frans Seda Foundation, Superbank, dan Vidio berharap dapat melahirkan sineas muda berbakat dari berbagai daerah di Indonesia yang mampu menghasilkan film vertikal berkualitas, relevan dengan perkembangan platform digital, sekaligus mengangkat nilai-nilai keberagaman melalui medium audiovisual yang dekat dengan generasi muda.(sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan