Berbagai Penelitian Universitas di Indonesia Buktikan AMDK Galon Guna Ulang Bebas Luruhan BPA

11 hours ago 7

 SHNet, Jakarta-Sejumlah penelitian dari para ahli di berbagai Universitas di Indonesia yang ada di Kota Makassar, Medan, dan menyebut bahwa Air Minum Dalam Kemasan (AMDK galon guna ulang bebas dari luruhan Bisphenol-A (BPA) dan aman untuk diminum.

Salah satu penelitian terhadap migrasi BPA galon guna ulang tersebut dilakukan Ketua Program Studi Kimia Universitas Islam Makassar, Endah Dwijayanti bersama tiga rekannya, yakni Rachmin Munadi dan Sri Wahyuningsih dari Universitas Islam Makassar, serta Iffana Dani Maulida dari Program Studi Teknologi Pangan Universitas Terbuka. Hasil penelitian telah dipublikasi di Jambura, Journal of Chemistry, Universitas Negeri Gorontalo pada 2023 lalu.

Endah Dwijayanti mengatakan penelitian ini dilakukan terkait adanya luruhan BPA dari kemasan galon membuat resah masyarakat. “Kami melakukan penelitian ini karena adanya keresahan di masyarakat, khususnya ibu rumah tangga yang punya balita sempat khawatir dengan pemberitaan mengenai luruhan BPA dalam galon air minum,” ujarnya.

Menurutnya, penelitian dilakukan dengan menggunakan peralatan canggih, yaitu Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS), untuk mendeteksi BPA hingga ke struktur kimianya. Teknik pengambilan sampel dilakukan dari lima kecamatan untuk memastikan representasi distribusi produk secara menyeluruh. “Kami mengumpulkan beberapa sampel galon guna ulang dari lima titik di lima kecamatan, lalu kami uji kandungan BPA-nya. Setelah dianalisis dengan instrumen GC-MS, hasilnya negatif. Hal itu menunjukkan tidak ada kandungan BPA yang terdeteksi dalam air galon tersebut,” ucapnya.

Dia menuturkan penelitian yang dilakukan mencakup pengujian terhadap galon guna ulang yang terpapar sinar matahari langsung maupun yang tidak. “Ini memperkuat bukti bahwa semua sampel air minum galon guna ulang aman untuk dikonsumsi masyarakat,” tuturnya.

Tim peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) yang melibatkan lima orang, yang terdiri dari tiga doktor dan satu calon doktor yang membidangi polimer atau plastik serta seorang dokter juga melakukan penelitian serupa pada 2024 lalu. Sampel yang digunakan adalah 10 merek AMDK galon guna ulang terkenal yang ada di Jawa Barat. Pertimbangannya, AMDK galon ini diasumsikan paling banyak dikonsumsi masyarakat sehingga itu bisa mewakili. Kemudian, air dari masing-masing galon diambil dan dianalisa dengan cara menginjeksikan ke alat High Performance Liquid Chromatography (HPLC) untuk mendeteksi kandungan BPA-nya. Adapun alat-alat yang digunakan ini merupakan alat-alat canggih karena bisa mendeteksi sampai 10 nanogram.

Pengujian selanjutnya juga dilakukan terhadap AMDK galon Polikarbonat yang disimpan terlebih dahulu selama 30 hari dan 90 hari. Ini untuk mengetahui kandungan BPA berdasarkan lamanya kontak antara air dan galonnya. Airnya kemudian diinjeksikan lagi ke HPLC.

Selain berdasarkan lamanya penyimpanan, pengujian juga dilakukan berdasarkan suhu. Dalam hal ini, ada tiga suhu yang digunakan, yaitu pada suhu ruang, temperatur panas 40 derajat Celcius, dan suhu 90 derajat Celcius dengan memanaskan galon di dalam oven. Kemudian air galon dari masing-masing temperature tadi dianalisa dengan cara menginjeksikan ke alat HPLC.

Hasilnya menunjukkan semakin tinggi suhu, migrasi BPA-nya memang semakin banyak. Tapi, jumlahnya juga masih di bawah ambang batas aman.

Penelitian lainnya dilakukan Kelompok Studi Kimia Organik Universitas Sumatera Utara (USU) pada 2025 lalu. Penelitian dilakukan secara independen pada 4 merek air kemasan galon guna ulang lokal maupun nasional terpopuler di Kota Medan, Sumatera Utara.

Prof. Dr. Juliati Tarigan MSi, Guru Besar Kimia Organik, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam (FMIPA) USU selaku Ketua Tim Peneliti memaparkan pengujian sampel dilakukan dengan menggunakan alat ukur High-Performance Liquid Chromatography (HPLC) atau Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), yang merupakan instrumen yang sangat canggih untuk mendeteksi kandungan BPA dalam air hingga level mikrogram per liter (µg/L).

Disebutkan, sampel dikumpulkan dari 4 merek air minum dalam kemasan galon guna ulang berbahan Polikarbonat (PC) yang umum dan populer ditemukan di Medan. Keempat sampel tersebut terdiri dari 2 merek produk AMDK nasional terpopuler dan dua sampel merek lokal terpopuler. Masing-masing merek diambil 3 sampel dari titik distribusi yang berbeda. Sampel diambil pada tiga kondisi penyimpanan, yaitu kondisi normal atau tidak terpapar matahari langsung, serta kondisi dengan paparan sinar matahari langsung selama 5 dan 10 hari. “Pengujian kami lakukan secara triplo atau dilakukan dengan menggunakan tiga sampel atau pengujian tiga kali. Ini sangat penting dilakukan pada sampel pangan agar data pertama dapat dibandingkan dengan data kedua atau ketiga, sehingga hasil akhir yang diperoleh menjadi lebih akurat,” tuturnya.

Hasilnya, dia menegaskan bahwa di dalam semua sampel air galon guna ulang yang diteliti, baik yang terpapar ataupun tidak terpapar sinar matahari, tidak terdeteksi adanya luruhan atau migrasi BPA. “Dengan demikian, masyarakat tidak perlu khawatir untuk mengonsumsi air minum kemasan galon guna ulang,” tukasnya.

Penelitian terbaru dilakukan Universitas Airlangga (Unair) pada 2026 ini. Ketua Peneliti Unair, Dr. Sudarmaji, mengatakan kadar BPA yang ditemukan dalam air minum dari galon guna ulang polikarbonat masih berada di bawah batas aman. “Berdasarkan hasil penelitian kami, masyarakat tidak perlu merasa panik. Seluruh sampel air minum yang kami analisis memiliki kadar BPA yang masih berada di bawah batas aman,” tegasnya.

Dia juga menjelaskan berdasarkan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL), risiko non-karsinogenik maupun karsinogenik dari paparan BPA pada sampel yang diteliti juga masih berada dalam kategori aman. Menurut Sudarmaji, penelitian tersebut dilakukan terhadap sampel air minum yang menggunakan galon guna ulang berbahan polikarbonat. (cls)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan