Maluku Jaga Memori, Monumen Dr. Chris Soumokil Didirikan di Belanda

16 hours ago 6

Oleh: Umar Santi

VUGHT – Di bawah cuaca mendung dan hujan, kain hitam yang menutupi Tugu Soumokil perlahan ditarik merupakan penanda peresmian monumen untuk mengenang Presiden Republik Maluku Selatan (RMS), Mr.Dr. Christian Steven Soumokil.

Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, 11 April 2026. Monumen untuk menghormati Dr. Chris Soumokil ini diresmikan di Kota Vught, Noord Brabant. Acara ini bukan sekadar seremoni peresmian fisik tetapi memiliki makna emosional akan kerinduan, keadilan, dan identitas yang terus terjaga selama tujuh dekade.

Acara ini dihadiri janda Chris Soumokil, Nyonya Josina Soumokil-Taniwel bersama Presiden RMS John Watilette dan diaspora yang memadati taman dimana munomen didirikan. Kehadiran seribu lebih pengendara motor besar dari diaspora Maluku juga memiliki daya tarik sendiri karena menarik perhatian warga yang dilalui iringan motor besar.

Kota ​Vught memiliki ikatan sejarah yang mendalam dengan komunitas Maluku. Di kota ini ada bekas kamp konsentrasi Herzogenbusch di wilayah ini atau dikenal sebagai Kamp Vught pernah menjadi rumah bagi ribuan eks-tentara KNIL asal Maluku beserta keluarga mereka saat pertama kali menginjakkan kaki di Belanda pada tahun 1951.

Acara dimulai dengan tabuhan tifa yang menggema di area terbuka hijau tempat monumen berdiri. Diaspora Maluku dari berbagai generasi, mulai dari para sesepuh yang masih mengingat masa-masa di kamp hingga generasi keempat yang lahir dan besar di Belanda juga hadir dengan mengenakan pakaian adat dan atribut berwarna merah, hijau, putih, dan biru.

Sebelum prosesi selubung monumen dibuka, berbagai atraksi budaya seperti nyanyian ikut mewarnai acara ini.

Pendirian monumen ini digagasa
Johnny Manuhutu (77), pendiri dan vokalis band Massada, yang datang ke Belanda dari Maluku bersama keluarganya saat masih balita.

Generasi pertama Maluku di Belanda
adalah tentara KNIL yang bertugas di pemerintahan Belanda dan dalam perjalanan ke Belanda dengan kapal pada tahun 1951 dan bersama keluarga menetap di Kamp Huizen dalam kondisi tanpa status, tanpa pekerjaan, dan tanpa jaring pengaman.

Bagi Maluku, monumen Chris Soumokil merupakan simbol dari sebuah janji yang belum usai. Persoalnnya, bukan tentang memelihara permusuhan tapi tentang pengakuan terhadap sejarah yang sering kali dipaksa untuk dilupakan.

Terlepas dari latar belakang agama, etnis, atau politik, keberadaan monumen juga merupakan penanda
perjuangan untuk hak fundamental
untuk menentukan nasib sendiri sebagai hak sebuah bangsa.

Generasi muda baik milineal maupun Z Maluku saat ini tumbuh dengan cerita tentang keberanian Chris Soumokil. Tapi dengan monumen ini memberikan titik sentral untuk memahami siapa dan mengapa kakek-nenek berakhir di Tanah Belanda.

Umar Santi (ist)

Chris Soumokil adalah presiden Republik Maluku Selatan (RMS), sebuah negara yang memproklamirkan diri pada 25 April 1950. Setelah perjuangan gerilya selama 13 tahun, Chris Soumokil ditangkap pasukan Indonesia pada tahun 1963. Beberapa tahun kemudian, pada 12 April 1966, Chris Spumokil dieksekusi setelah perjamuan Paskah tahun 1966.

Bagi Maluku, kematiannya dipandang sebagai eksekusi yang kontroversial, karena diadili tanpa kesempatan yang memadai untuk membela diri. Selain itu, pemerintah Indonesia tidak pernah menyerahkan jenazah Chris Soumokil dan sampai saat ini, keluarga dan warga Maluku tidak mengetahui pusara Chris Soumokil.

Hampir selama 60 tahun, janda Chris Spumokil, Nyonya Josina Soumokil bersama puteranya almarhum Tommy Soumokil berusaha menemukan makam Chris Soumokil tapi usaha itu tidak membuahkan hasil.

Memang, pusara Chris Soumokil bisa disembunyikan tapi api perjuangan yang dinyalakan tidak akan pernah padam. Dari generai ke generasi diaspora Maluku terus menjaga dan meniup api perjuangan warisan Chris Soumokil.

Chris Soumokil merupakan mantan jaksa dan tokoh penting pada masa Negara Indonesia Timur yang sangat memahami status Maluku secara hukum, tapi geopolitik kepentingan negara besar di dunia akan sumber daya alam Indoensia pada masa itu menjadi faktor penentu sikap negara-negara terhadap perjuangan Maluku.

Penulis, Umar Santi adalah Mantan Menlu RMS (2017-2022)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan