Tulisan Tangan dan Proses Metamorfosis Kecerdasan Buatan; Perjumpaan dengan Prof Rudi Harjanto.

15 hours ago 6

SHNet, Jakarta- Masihkah Anda sekarag menulis dengan tangan? Memegang pena atau pensil dengan selembar kertas atau buku tulis? Jawabnya pasti beragam, tapi kemungkinan lebih banyak yang tidak melakukannya lagi. perkembangan teknologi , termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI)  ditambah beragam platform media sosial  (medsos) membuat kita terbiasa menulis dengan jari diatas keyboard laptop, tablet, dan gawai .

Lalu, masih pentingkah menulis dengan tangan atau tulisan tangan? Jawabnya tegas, sangat penting. Megapa demikian? Jawaban lengkapnya ada di buku terbaru Prof. Rudy Harjanto berjudul “Tulisan Tangan, Kemanusiaan dan Artificial Intelligence (AI): Merebut Kembali  Pikiran Manusia du Dunia Algoritmik”. Buku setebal 142 halaman yang diterbitkan Yayasan Pustaka Obor (Mei 2026) ini juga terbit dalam edisi bahasa Inggris.

Penulis beruntung karena bisa bertemu langsung dengan penulisnya yang ramah dan bersemangat, Prof Rudi Harjanto, intelektual yang gemar menuntut ilmu, bahkan gelar doktornya ditempuh di sejumlah kampus  ternama di Tanah Air dengan beragam konsentrasi keilmuan mulai Ilmu Komunikasi, Ilmu Manajemen, Ilmu Hukum, Seni dan Disain. Tulisan tangan yang kini dibukukan, merupakan kajian dari disertasinya di Universitas Tun Abdul Razak, Kuala Lumpur, Malaysia. Pembimbingnya, Prof Zaida Mustafa, mnjadi editor buku tentang  tulisan tangan ini.

Argumentasi buku Prof Rudi Harjanto ini menyatakan bahwa tulisan tangan tidak menghilang; melainkan berevolusi . Pena digital, tablet, platformn berbantuan AI bukanlah akhir dari dunia menulis, melainkan metamorfosisnya. “Karena itu pertanyaannya, bukanlah cara menjaga tulisna tangan. Tetapi bagaimana  menjaga emanusiaan di dalamnya.” tandas Prof Rudi.

Mantan Rektor Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) untuk dua periode berturut-turut pada 2015–2020 dan 2020–2025 ini melanjutkan, secara etis, ini berarti merancang  teknologi  yaang menghargai kecerdasan tangan, peragkat yangmemperkaya, alih-alih menggantikan, hubungan taktil kita dengan bahasa.

“Secara praktis, ini berarti mengintegrasikan  tulisan  tangan ke dalam pedagogi digital sebagai praktik reflektif. Secara filosofis, ini mengajak kita untuk mengingat bahwa pendidikan pada dasarnya  bersifat relasional . Sebuah ruang di mana pengetahuan tidak hanya mengalir melalui informasi tetapi juga melalui empati,”papar Prof. Rudi.

Prof Rudi Harjanto yang kini mengajar di LSPR untuk program S2 dan S3 mengungkapkan, studi tentang tulisan tangan yang kemudian dibukukan dalam dua bahasa ini melampaui Malaysia. Di belahan bumi selatan, di mana ketimpangan digital masih ada, tulisan tangan  tetap menjadi teknologi demokratis, yang tidak memerlukan baterai, jaringan, dan hanya butuh perhatian.

“Namun, tulisan tangan juga berhubungan dengan mulus melalui percakapan global tentang kecerdasan buatan  dan etika. Tangan manusia menjadi simbol keberlanjutan, menjembatani tradisi lokal dan transformasi global,” ujarnya.

Prof. Rdi Harjanto tengah menandatangani bukunya untuk penulis

Tulisan Tangan Tetap Relevan

Dalam pengantar buku terbarunya tentang tulisan tangan ini, Prof. Rudi Harjanto mengatakan, pendidikan pada dasarnya selalu bergerak di antara dua hal; refleksi dan inovasi/ tantangan kita hari ini bukan pada teknologi itu sendiri melainkan pada kecendrungan  untuk melupakan keseimbangan  diantara  keduanya. Kecerdasan buatan menawarkan kecepatan dan efesiensi, tetapi  pemahaman yang mendalam, sering  kali justru lahir dari proses lebih lambat.

“Di sinilah tulisan atngan tetap relevan. Ia membuat kita berhenti sejenak, memberi aktu bagi pikiran untuk tersusun, dan menjadi belajar sebagai pelangalaman yang terasa. Sebagaimana diinginkan oleh Natalie Goldberg, tulisan tangan memiliki keterkaitan dengan batin manusia -sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat tergantikan oleh teknologi,” jelas Prof. Rudi.

Temuan dalam ilmu saraf juga mendukung hal ini ungkap Prof. Rudi. Penelitian oleh Audrey van der Meer dan Ruud van der Weel menunjukkan bhwa menulis dengan tangan melibatkan kerja terpadu antara gerakan, persepsi, dan bahasa. Sementara itu studi Jennifer Wiley dan Brenda Rapp menunjukkan  bahwa tulisan tangan  mendorong keterlibatan yang lebih dalam proses belajar, Dengan kata lain, tangan bukan sekadar alat-ia bagian dari cara kita berfikir.

Cover buku karya Prof. Rudi Harjanto tentang tulisan tangan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris

Tulisan tangan lanjut Prof .Rudi  juga menyimpan jejak kehadiran. Setiap goresan membawa tanda personal-keraguan, keyakinan, bahkan ketidaksempurnaan. Justru di situlah  proses berfikir menjadi nyata. Di tegah dunia yang semakin diproses oleh algoritma, tulisan tangan mengingatkan kita bahwa belajar tetap merupakan pengalaman manusia.

“Saya teringat satu momen di Jakarta. Seorang profesor menunjukkan esai tulisan tangan mahasiswanya. Ia tersenyum sambil menunjuk beberapa kesalahan kecil dan berkata, ‘di sinilah terlihat bahwa mereka sedanf berfikir’. Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa pendidikan bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentangeterlibatan,” ujar Prof.Rudi.

Saat bertemu di kantor Penerbit Yayasan Pustaka Obor, Rabu (21/05/2026), penulis yang mebiasakan mahasiswa menulis kuis dengan tulisan tangan, membawa setumpuk tulisan tangan mahasiswa, lalu Prof. Rudi merespons, “Wah udah bagus ekali tulisan tangannya.”

Percakapan pun berlanjut ke sebuah rumah makan yang khusus menyediakan menu masakan manado, kami bertiga dengan Mas Andre dari Yayasan Obor berbincang lebih dalam tentang tulisan tangan, dan tentunya tentang perjalanan intelektual Prof Rudi Harjanto. Terima kasih atas perkenalan dan pertemuan yang luar biasa. Bacalah buku terbaru Prof Rudi ini, pasti pembaca mendapatkan pengetahuan yang luar biasa. (sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan