SHNet, Jakarta- Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si menegaskan, tingkat membaca di Indonesia tidak rendah seperti banyak diberitakan selama ini, terbukti geliat gerakan membaca tumbuh subur di seluruh Indonesia. Yang menjadi persoalan selama ini adalah akses masyarakat ke sumber bacaan yang masih belum merata.
“Kita terus mengupayakan untuk emmpermudah akses ke bahan bacaan. Begitu juga dengan bahan bacaan yang diusahakan merata di seluruh Indonesia,” ujar Hafidz Muksin saat memberi paparan pada gelar wicara “Ceiradari Perbatasan Indonesia di Malinau: Pratik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi” di Aula Sasadu, Badan Bahasa Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (21/05/2026).
Hadir dalam gelar wicara yang diikuti perwakilan Masyarakat Malinau, Kalimantan Utara, guru, dosen, pegiat literasi dan unsur Dikdasmen ini, Bunda Literasi Malinau, Ny. My Lenty Wempy, SE, salah satu Kepala Desa Yeyen, Ketua Ikatan Keluarga Baca Malinau (IKBM), Belvi, dan Pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) ”Lasan Baca” Zsa Zsa Suhartiningtyas. semua narasumber mencertakan bagaimana dampak positif gerakan literasi yang masih di Malinau.
Hafidz Muksin menjelaskan kekuatan Malinau dan Kalimantan Utara dalam gerakan literasi yang disebutnya memiliki modal literasi yang baik. Indeks kegemaran membaca tahun 2025 menunjukkan capaian yang menggembirakan. Modal ini perlu dirawat melalui gerakan literasi berbasis komunitas , keluarga, sekolah, dan partisipasi semesta.
“Indeks kegemaran membaca di Kalimantan Utara 58,89 mengalahkan indeks membaca tingkat nasional yang hanya 54,8. Data ini menunjukkan bahwa wilayah perbatasan memiliki modal sosial dan semangat literasi yang patut diperkuat,” ujar Hafidz sambil menambahkan indes kegemaran membaca tertinggi ada di NTT sebesar 62,06.
Pemberian cindera mata dari Kepala Badan Bahasa kepada Bunda LiterasiInvestasi Putus Rantai Kemiskinan
Sementara itu Bunda Literasi, ny, May Lenty yang tak lain adalah istri dari Bupati Malinau mengungkapkan, gerakan literais yang terus dikembangkan hingga ke pelosok desa, bahkan tingakt RT, merupakan investasi bagi daerah untuk memutus rantai kemiskinan. “Denganmembaca orang jadi banyak pengetahuan dan kreatif melakukan pengkatan taraf hidupnya,”ujarnya.
Mengimgat Malinau berbatasa dengan negara Malaysia, maka kata May Lenty, literasi merupakan penguatan bagi masyarakat di perbatasan dan ini menjadi tantangan tersendiri agar tingkat pendidikan bisa dijangkau masyarakat luas.
Keberhasilan gerakan dan praktik literasi yang menjangkau masyaraat luas di Malinau ini bukan tanpa tantangan. May Lenty menyebutkan, geografis yang luas di Malinau (luas wilayah Kalimantan Utara ada di Malinau) dan keberagaman masyarakat mulai dari budaya dan bahasa juga harus diatasi. “Makanya pendekatan ke masyarakat lokal jadi penting,” katanya.
Salah satu kepala desa yang hadir, Yeyen mengungkapkan bagaimana diirnya erpilih menjadi kepala desa, karena sebelumnya telah melaksanakan prakti baik pada masyarakat lewat literasi. Dari situ, keluarga yang anak-anaknya mengikuti kegiatan literasi mendukung dan meilihnya sebagai kepala desa.
Saat menjadi kepala desa, Yeyen lebih intens menggerakan literasi di desanya, bahkan mengintegrasikan dengan perencanaan desa dengan melibatkan semua RT. ”Kami menganggarkan untuk desa dan RT dalam berkegitana literasi, termasuk pegiat literasi juga kami berikan dukungan transport dan berbagai kegiatan lomba, kami beri fasilitas,” ungkapnya.
Hasilnya? masyarakat semakin rajin membaca dan percaya diri, tingkat partisipasi masyarakat juga semakin tinggi. Jadi , literasi bagian dari pembangunan masyarakat desa.
Penjelasan lebih lengkap lagi mengenai kegiatan literasi juga ditambahkan oleh Ketua IKBM, Belvi dan pengelola TBM Lasan Baa Zsa Zsa. Menurut Belvi, pihaknya memberikan sosialisasi pentingnya TBM, juga membantu pendirian TBM, dan juga memberikan dukungan serta bantuan administasi .
Sedangkan Zsa Zasa menceritakan bagaimana awal mula membentuk TBM Lasan Baca yang cukup sulit mencari anak untuk datang dan membaca, tetapi perlahan, justru mereka yang kini rajin datang untuk membaca. Dampaknya, terlihat pada berkurangnya penggunaan hp di kalangan anak-anak dan remaja, semangat percaya diri, dan hasil pembelajaran sekolah yang meningkat. (sur)


















































