Bangun Kesetaraan, LLDikti Wilayah III Dukung Perguruan Tinggi Wujudkan Kampus Ramah Disabilitas Netra

5 hours ago 3

SHNet, Jakarta– Pendidikan tinggi yang inklusif dan setara bukan lagi sekadar bicara tentang membuka pintu akses masuk ke perguruan tinggi, tetapi juga memastikan setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, berprestasi, hingga menghasilkan karya. Di tengah berkembangnya kesadaran akan pentingnya kesetaraan akses pendidikan, tantangan yang kini semakin mengemuka adalah bagaimana perguruan tinggi dapat menghadirkan ekosistem akademik dan riset yang ramah bagi seluruh sivitas akademika, termasuk penyandang disabilitas netra.

Melalui penyelenggaraan kegiatan kolaboratif antara Universitas Al-Azhar Indonesia dan University of Edinburgh, Skotlandia, Inggris, yang bertajuk Dissemination and Closing Project “Academic Success for Research with Visual Impairment” di Jakarta, pada Kamis (21/06/2026), LLDikti Wilayah III menyampaikan dukungan penuh terhadap perguruan tinggi yang siap membuka jalan kesetaraan bagi disabilitas netra untuk berkontribusi dalam perwujudan tridharma perguruan tinggi.

Kepala Bagian Umum LLDikti Wilayah III Tri Munanto dalam sambutannya menegaskan bahwa penciptaan lingkungan akademik yang inklusif merupakan cerminan dari integritas sebuah institusi pendidikan tinggi. “Membangun kampus yang inklusif adalah kewajiban moral dan akademis kita bersama. Kampus inklusif tidak berhenti pada menyediakan akses, tetapi juga memastikan bahwa setiap akademisi memiliki kesempatan untuk belajar, meneliti, berkarya, dan berkontribusi tanpa hambatan,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa penguatan pendidikan inklusif memerlukan dukungan berbagai pihak, mulai dari kebijakan institusi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, hingga budaya akademik yang menghargai keberagaman. Acara yang berlangsung secara hybrid di Hotel GranDhika Iskandarsyah, Jakarta Selatan, ini menjadi momentum penting bagi transformasi dunia pendidikan tinggi untuk menyamakan persepsi mengenai pentingnya kesetaraan akses.

Program kolaboratif ini merupakan kelanjutan dari kemitraan strategis di bawah skema Disability Inclusion Partnership yang didukung penuh oleh hibah British Council sejak tahun 2023. Setelah berhasil menyusun rekomendasi kebijakan dan Standar Operasional Prosedur (SOP) kampus inklusif pada tahun 2024, fokus tahun ini diarahkan pada perluasan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk terlibat aktif dalam penelitian, baik sebagai penerima manfaat maupun sebagai peneliti utama. Melalui studi banding ke University of Edinburgh dan Abertay University Dundee pada akhir tahun lalu, serta kajian mendalam kondisi riil di Indonesia pada awal tahun 2026, delegasi Universitas Al-Azhar Indonesia berhasil merumuskan rekomendasi langkah-langkah strategis untuk menjembatani kesenjangan tata kelola riset yang ada.

Cut Meutia Karolina, M.I.Kom., selaku Indonesian Lead Project dari Universitas Al-Azhar Indonesia, mengatakan bahwa hasil kajian dari proyek ini diharapkan mampu memberikan perspektif baru bagi para pemangku kebijakan di kampus. Sejalan dengan hal tersebut, Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia Prof. Widodo Muktiyo mengatakan, “Di momen ini, kami membagikan pembelajaran berharga agar perguruan tinggi di Indonesia mampu melakukan penyesuaian desain aksesibilitas serta pengelolaan sumber daya manusia riset yang lebih inklusif, sehingga rekan-rekan disabilitas tidak hanya menjadi objek, tetapi subjek aktif inovasi,” ujarnya.

Adanya diseminasi ini diharapkan dapat memantik kesadaran kolektif dan mendorong kesiapan perguruan tinggi untuk segera mengimplementasikan akomodasi yang mendukung terselenggaranya pendidikan tinggi yang inklusif. Kolaborasi ini diyakini akan berdampak signifikan dalam memastikan keberhasilan dan peluang bagi disabilitas, termasuk individu dengan disabilitas netra di perguruan tinggi di Indonesia.

Sebagai fasilitator peningkatan mutu pendidikan tinggi yang berdampak, LLDikti Wilayah III akan terus mengawal agar rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari kolaborasi internasional ini dapat diintegrasikan ke dalam tata kelola institusi perguruan tinggi demi melahirkan kemanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat.(sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan