Bali Tribune / Kadis Kominfosan Kabupaten Bangli, I Nyoman Murditha
balitribune.co.id | Bangli - Upaya penataan kabel semrawut di Kabupaten Bangli sempat dinilai 'hangat-hangat tahi ayam'. Pasalnya, Pemkab Bangli yang sebelumnya gencar melakukan penertiban mendadak menghentikan aktivitas penataan di lapangan hingga memicu kesan mandek.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Kadis Kominfosan) Kabupaten Bangli, I Nyoman Murditha, menegaskan bahwa penataan kabel jaringan telekomunikasi dan listrik memang sempat tertunda akibat moratorium. Namun, ia memastikan program penertiban tersebut segera dilanjutkan kembali.
"Tim teknis akan mulai bergerak pada minggu ketiga September ini. Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dengan menyasar pusat Kota Bangli sebagai proyek awal," ujar Murditha saat dikonfirmasi, Minggu (20/9/2026).
Murditha menambahkan, penataan kabel ditargetkan terus berjalan hingga akhir tahun. Meski demikian, pengerjaan belum bisa mencakup seluruh wilayah di Kabupaten Bangli lantaran terkendala medan yang terjal dan sulit.
Fokus utama hingga akhir tahun ini adalah mengamankan dan merapikan kabel-kabel melintas di pusat kota. "Target sementara kami menuntaskan kabel semrawut di pusat Kota Bangli akhir tahun ini, minimal dengan mengencangkan dan mengikat kabel-kabel yang menjuntai," ungkapnya.
Sementara untuk wilayah Kecamatan Kintamani, Murditha menjelaskan bahwa kawasan tersebut masuk dalam rancangan penataan tahap kedua pada akhir tahun 2026. Sebagai destinasi wisata unggulan, penataan kabel di Kintamani akan dimulai dari jalur Anjungan Penelokan hingga Desa Batur.
Sebelumnya, Pemkab Bangli telah merencanakan pemindahan kabel udara ke bawah tanah (underground) demi estetika tata kota. Proyek ini tidak membebani APBD karena seluruh pembiayaannya ditanggung oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) bersama para anggotanya.
Pemasangan kabel bawah tanah rencananya menggunakan metode horizontal directional drilling (boring) serta penyiapan enhole dan manhole agar tidak merusak permukaan jalan. Namun, proyek tersebut sempat tertunda lantaran APJATEL dan PLN memberlakukan moratorium akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang melambungkan harga peralatan teknis.


















































