Perhimpunan Penulis Alinea “Goes To Campus” Universitas Indonesia

4 hours ago 5

SHNet, Depok— Ruang Apung Perpustakaan Universitas Indonesia siang itu menjadi ruang perjumpaan antara penulis, pengetahuan, dan perubahan zaman. Para penulis berbicara tentang kecerdasan buatan, politik literasi, makanan dan kebudayaan, kebiasaan membaca, memoar, hingga masa depan profesi penulis.

Pertemuan bertajuk “Penulis di Tengah Perubahan” ini digelar Perkumpulan Penulis Indonesia Alinea pada Rabu, (02/09/2026), sebagai bagian dari rangkaian Road to Munas Alinea 2026. Acara dirancang dalam format Sesi Gagasan Penulis: setiap pembicara menyampaikan satu gagasan utama selama sepuluh menit tanpa presentasi PowerPoint, kemudian percakapan dibuka bersama peserta.

Kepala Perpustakaan Universitas Indonesia, Luluk Tri Wulandari, S.S., M.Hum., menyambut baik kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi kehadiran para penulis di Ruang Apung, Perpustakaan Universitas Indonesia dan menyampaikan terima kasih kepada para penulis yang telah hadir untuk berbagi gagasan dengan sivitas akademika.

Pertemuan selanjutnya dibuka Deasy Tirayoh. Direktur Eksekutif Alinea ini menjelaskan bahwa program Alinea Goes to Campus menjadi penutup rangkaian Sarasehan Dalam Jaringan (SADARING) Alinea, yang sebelumnya menghadirkan berbagai percakapan dengan penulis, akademisi, antropolog, komikus, pegiat kebudayaan, serta sastrawan.

“Setelah ini kita akan masuk ke acara puncak, yaitu Munas Alinea pada 5–6 September yang akan dilaksanakan di Komunitas Utan Kayu,” ujar Deasy.

Wien Muldian, yang turut memberikan sambutan pun menyampaikan bahwa Alinea terbuka bagi penulis dari berbagai genre sekaligus mereka yang bekerja dalam proses produksi industri kepenulisan, termasuk editor, ilustrator, dan profesi lain yang ikut membuat karya sampai kepada pembaca.

Moderator Stebby Julionatan kemudian mengarahkan lima sesi gagasan yang disampaikan narasumber antara lain: Maman Suherman, Kanti W. Janis, Heni Pridia, Kurnia Effendi, dan Nuria Soeharto. Kelimanya datang dari pengalaman yang berbeda, tetapi percakapan mereka bertemu pada satu persoalan tentang bagaimana penulis mempertahankan daya pikir dan relevansinya ketika lingkungan tempat manusia membaca, menulis, dan memproduksi pengetahuan terus berubah.

Tak lupa, Stebby mengundang Achmad Fachrodji untuk berkenan menjadi penanggap dari sesi ini.

Para pengurus Alinea saat tampil dalam diskusi di Kampus UI Depok, Rabu (02/09/2026)

Kecerdasan Imitasi dan Suara Personal

Maman Suherman membuka percakapan dengan menempatkan pegiat literasi sebagai bagian dari rantai pewarisan pengetahuan.

“Pegiat literasi adalah pewaris pengetahuan. Dengan demikian, kiranya kita perlu memiliki keberanian untuk terus berpikir, mempertanyakan apa yang kita terima, dan menemukan suara kita sendiri di tengah perubahan teknologi,” ungkap alumnus Kriminologi UI ini.

Selanjutnya, Maman juga tak ayal melihat perkembangan AI dengan perhatian pada sesuatu yang lebih dalam daripada kemampuan mesin menghasilkan teks. Kemudahan tersebut berpotensi membuat suara personal semakin samar. Bersamaan dengan itu, keberanian untuk mengakui ketidaksempurnaan dan keberanian berpikir dengan kemampuan sendiri ikut menghadapi tantangan.

Penulis puluhan karya buku ini juga mengajak peserta melihat persoalan kualitas secara lebih kritis. Kemampuan seorang penulis tidak lahir dalam ruang yang seragam. Akses terhadap buku, pendidikan, sumber pengetahuan, dan sumber daya turut menentukan kesempatan seseorang mengembangkan kemampuan.

Pertanyaan tentang kualitas kemudian muncul dari peserta. Abdul Rahman, mahasiswa Magister Filologi Universitas Indonesia, mempertanyakan mengapa penulis dan penulisan pada masa lalu dianggap memiliki daya dan kemampuan yang lebih baik, sementara kualitas tulisan hari ini dinilai mengalami penurunan.

Pertanyaan tersebut memperluas diskusi bahwasanya kualitas tulisan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individual, tetapi juga dengan lingkungan yang membentuk kebiasaan membaca, berpikir, dan menulis.

Pngurus ALINEA yang juga pendiri Baca Di Tebet, Kanti W Janis saat berbicara di Kampus UI Depok, Rabu (02/09/2026)

Literasi vs Politik?

Kanti W. Janis membawa percakapan ke wilayah yang lebih politis. Ia mengingatkan bahwa kegiatan menulis dan literasi tidak pernah sepenuhnya terlepas dari politik.

Apa yang ditulis, pengalaman siapa yang diberi ruang, suara mana yang diperdengarkan, hingga persoalan apa yang dianggap penting untuk dibicarakan selalu memiliki konteks sosial dan politik.

Karena itu, Kanti menekankan pentingnya keberanian untuk tetap membela Indonesia sekaligus mengembangkan keterampilan menulis sebagai jembatan untuk menyuarakan ketidakadilan.

Pengalamannya membangun Baca Di Tebet (BDT) serta inisiatif penerbitan Sebermula memperlihatkan bagaimana kerja literasi dapat menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan, masyarakat, dan keberanian menyampaikan gagasan.

Bagi Kanti, kemampuan menulis perlu terus diasah agar penulis tidak hanya mampu menghasilkan karya, tetapi juga memiliki perangkat untuk membaca persoalan dan menyampaikan suara dengan lebih kuat.

Makanan sebagai Arsip Kebudayaan

Dari politik literasi, Heni Pridia membawa peserta pada sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: makanan.

“Makanan itu selalu terkait erat dengan sejarah dan kebudayaannya.”

Menurut akademisi dari Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI ini, makanan dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah, identitas, kebiasaan, dan pengetahuan suatu masyarakat. Perspektif tersebut berangkat dari pengalamannya sebagai pemerhati kuliner sekaligus pengajar di bidang pendidikan, hospitaliti, dan pariwisata.

Menulis, bagi Heni, membutuhkan kesadaran untuk mencatat pengetahuan yang hidup di sekitar kita. Banyak pengetahuan hadir melalui praktik keseharian dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika tidak dicatat, pengetahuan tersebut berisiko hilang bersama perubahan kehidupan masyarakat.

Sastrawan Kurnia Effendi yangjuga pengurus Alinea saat tampil di Kampus UI, Depok, Rabu (02/09/2026)

Membaca untuk Latihan Berpikir

Kurnia Effendi, sastrawan yang dikenal melalui karya-karya prosanya, mengajak peserta kembali pada aktivitas dasar seorang penulis: membaca.

Para penulis, menurut Kurnia, membaca melampaui batas usia. Membaca menjadi latihan untuk berjumpa dengan gagasan, pengalaman, dan dunia yang lebih luas daripada pengalaman pribadi.

Kemampuan berpikir pun perlu dilatih terus-menerus. Dalam proses itu, menulis menjadi salah satu cara untuk menguji bagaimana seseorang memahami kehidupan dan menyusun kembali hasil perjumpaannya dengan berbagai pengetahuan.

Sementara itu, dalam sesi berikutnya, Nuria Soeharto berbicara tentang memoar dan pengalaman menerbitkan karya secara mandiri. Penulis yang jug lulusan PhD dari Université de Paris-8, Prancis ini mengisahkan bagaimana perjalanan hidupnya, termasuk belasan tahun menetap di Eropa,sebelum kembali ke tanah air untuk merawat ibundanya yang mengalami demensia, menjadi sumber pengalaman yang kemudian diolah menjadi bahan bakar kreatif untuk merumuskan sejumlah karya.

Bagi alumnus Antropologi UI tersebut, pengalaman lintas ruang dan kebudayaan itu memberinya jarak untuk membaca kembali kehidupan, sebelum mengubahnya menjadi cerita yang dapat dibagikan kepada pembaca.

Memoar memberinya ruang untuk mengolah pengalaman hidup menjadi pengetahuan yang dapat dibagikan kepada orang lain. Sementara pilihan self-publishing membuka ruang bagi penulis untuk memiliki kendali lebih besar atas proses berkarya dan penerbitan.

Pengalaman personal dengan demikian dapat bergerak menjadi karya yang memiliki nilai pembelajaran bagi pembaca.

Achmad Fachrodji, Direktur Utama Balai Pustaka yang juga pengurus Alinea saat berbicara di Kampus UI Depok, Rabu (02/09/2026)

Menulis sebagai Profesi

Sebagai penanggap, Achmad Fachrodji, Direktur Utama Balai Pustaka, menyambut baik berbagai gagasan yang berkembang sepanjang acara. Ia menyoroti sisi lain dari masa depan kepenulisan: kemampuan profesi ini untuk menjadi sumber penghidupan.

Pandangan tersebut membawa diskusi pada persoalan keberlanjutan. Penulis tidak hanya perlu memiliki gagasan dan kemampuan menghasilkan karya, tetapi juga memahami ekosistem tempat profesinya berlangsung.

Pembicaraan di Ruang Apung akhirnya menyuguhkan pusparagam dari perubahan yang dihadapi penulis sejatinya datang dari banyak arah. AI mengubah cara teks diproduksi. Politik menentukan sebagian konteks tempat suara bekerja. Perubahan sosial membawa pengetahuan yang perlu dicatat. Kebiasaan membaca memengaruhi kemampuan berpikir. Sementara industri penerbitan terus membuka dan menutup berbagai kemungkinan bagi penulis.

Di antara semua itu, pertanyaan tentang suara personal, keberanian berpikir, dan posisi penulis dalam kehidupan bersama tetap menjadi pokok.

Pada akhirnya, percakapan di Ruang Apung membawa satu pertanyaan yang lebih luas tentang masa depan kepenulisan: dengan lesatnya perubahan cara manusia memproduksi dan mengakses pengetahuan, apa yang tetap perlu dijaga oleh penulis? Jawabannya berkelindan pada keberanian berpikir, ketekunan membaca, kemampuan merawat pengetahuan, dan kesediaan mengambil posisi melalui karya. Percakapan ini kemudian menjadi pengantar menuju Munas Alinea 2026, 5–6 September di Komunitas Utan Kayu, ketika gagasan tentang penulis yang terlibat, bersinergi, dan berdampak akan dibawa ke ruang musyawarah organisasi. (sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan