SHNet, Jakarta-Moda penyeberangan sangat jarang disorot di sektor keselamatan. Dalam periode 2023–2025 terdapat beberapa kecelakaan kapal penyeberangan seperti tenggelamnya ferry, kapal terbakar, dan kapal terbalik.
Deddy Herlambang, Peneliti Senior INSTRAN (Inisiatif Strategis Transportasi) mengutarakan peristiwa paling menonjol adalah tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya (2025) dan kebakaran KM Barcelona V-A (2025) yang menimbulkan banyak korban jiwa dan sedikit disorot isu keselamatan transportasi penyeberangan di negeri ini. Kecelakaan laut tersebut yang tak terdata juga sangat banyak pada pelayaran rakyat baik yang resmi ataupun tidak resmi.
Untuk demand penyeberangan tetap sangatlah tinggi, kita mempunyai 17.000 pulau yang masih tergantung pada penyeberangan laut. Jumlah penyeberang (penumpang ferry) pada periode mudik Lebaran di lintasan utama penyeberangan nasional, khususnya lintasan Pelabuhan Merak – Pelabuhan Bakauheni yang merupakan jalur tersibuk di Indonesia dan dikelola oleh PT ASDP Indonesia Ferry. Dalam sistem penyeberangan nasional yang dikelola ASDP, selama periode Lebaran diperkirakan sekitar 4,5 – 5 juta penumpang menggunakan transportasi penyeberangan di berbagai lintasan (Merak–Bakauheni, Ketapang–Gilimanuk, Kayangan–Pototano, dll.).
Jumlah Penyeberang Mudik Lebaran 2023–2025 (periode H-10 sampai Hari Lebaran, arah Jawa → Sumatera). Tahun 2023 Jumlah Penumpang 920.054 orang Jumlah Kendaraan 213.737 unit. Tahun 2024, 859.699 orang, 226.299 unit, sedangkan tahun 2025, 885.828 orang, 225.400 unit, ada kenaikan sekitar 3% dari Tahun 2024. Jumlah penyeberang mudik Lebaran di lintasan utama ferry Indonesia relatif stabil pada kisaran 850 ribu – 920 ribu penumpang per tahun untuk rute Jawa–Sumatera.
Memang terdapat kenaikan 3 % penyeberangan di tahun 2025, namun Dewan Pimpinan Pusat Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (GAPASDAP), menyatakan tidak mendapat ada keuntungan kenaikan penyeberangan di kala mudik Lebaran 2023 hingga 2025.
Tiada Keberpihakan
Adanya kebijakan pengaturan arus kendaraan diberlakukan selama mudik Lebaran 2026, dalam beberapa kondisi terjadi ketidakseimbangan distribusi kendaraan antara pelabuhan utama dan pelabuhan penunjang. Pada saat pelabuhan utama relatif kosong, pelabuhan penunjang seperti BBJ dan Ciwandan justru mengalami antrean kendaraan yang sangat panjang.
Rekayasa antrian kendaraan penyeberang ke Sumatera khusus kendaraan roda-dua selama mudik lebaran tiap tahun dialihkan ke Pelabuhan Ciwandan dan BBJ. Kapal-kapal ferry juga melayani sampai ke BBJ dan Ciwandan untuk menyeberangkan pemudik ke Pelabuhan Panjang dan Wika Lampung. Tarif normal sebenarnya dari Pelabuhan Merak ke Bakahuni, bila melayani hingga Ciwandan sampai ke Pelabuhan Wika tentunya lebih jauh, tetapi tidak diizinkan menaikan tarif dan tiada subsidi dari Pemerintah. Kondisi ini yang dikeluhkan pada pengelola ferry karena di kala mudik lebaran seharusnya memperoleh untung besar namun malah sebaliknya karena biaya operasi kapal ferry lebih besar bila dari Ciwandan dibandingkan dari Merak.
Saat ini pula Pemerintah di kegiatan mudik lebaran 2026 serentak memberikan diskon tarif mudik lebaran hingga 30% di semua moda, Kereta Api, penerbangan bus, kapal / penyeberangan hingga diskon tarif tol. Diskon mudik itupun disubsidi oleh operator penyeberangan sendiri jadi diskon tersebut bukan biaya subdisi yang diberikan oleh Pemerintah. Sangat berat memang melayani subsidi transportasi umum bila tanpa subsidi dari Pemerintah karena mencari celah keuntungan di kala peak season saja yang bukan di sesi mudik.
Bila mudik lebaran sangat banyak frekuensi penyeberangan menuju Bakahuni (Sumatera) memunculkan pola operasi TBB (Tiba Bongkar Berangkat) dimana kapal tiba di pelabuhan tujuan, melakukan bongkar kendaraan, namun kembali ke Pelabuhan Merak tanpa memuat kendaraan atau muatan, atau kembali ke pelabuhan semula kosong tanpa muatan, akibatnya kapal penyeberangan rugi operasional.


















































