Catatan: M. Nigara
Wartawan Sepakbola Senior
GIANNI INFANTINO, Presiden FIFA, tampaknya akan terjerembab ke dalam lubang yang dia gali sendiri. Meski tidak melanggar regulasi dengan membatalkan hukuman satu laga setelah kartu merah bagi Falorin Balogun, pemain nasional Amerika Serikat, tapi azas keadilan telah diabaikan.
Ini bukan pertama kali Infantino berbuat tidak adil. Tengoklah saat Indonesia yang telah ditunjuk untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia U20, dibatalkan karena masalah penolakan kedatangan Israel. Tapi, lihatlah Amerika bersama Israel yang secara gila-gilaan menyerang Iran. Tak sedikitpun peringatan dikeluarkan FIFA.
Bahkan, saat Amerika ‘menyiksa’ timnas Iran dengan cara tidak mengizinkan mereka tinggal di negaranya, meski grup G di mana Iran berlaga, seluruhnya dimainkan di Amerika. FIFA seperti tutup mata.
Kronologi
Ketika Folarin Balogun, pemain USA yang kena kartu merah vs Bosnia di menit 32, sesuai Pasal 10:5- “Jika pemain dikartu merah langsung/tidak langsung, otomatis skors laga berikutnya”. Artinya Balogun tidak boleh bermain satu kali di turnamen yang sama alias babak 16 besar Piala Dunia 2026 (vs Belgia).
Lalu, mengapa bisa dicabut? Pasal 27 Disciplinary Code, FIFA dengan Chapter 4, Article 27. Isinya: “Badan yudisial boleh memutuskan untuk menunda penuh/sebagian pelaksanaan sanksi disipliner”
Jadi sanksinya tetap ada, tapi pelaksanaannya ditunda dengan masa percobaan 1 tahun. Kalau dia bikin pelanggaran serupa lagi, hukumannya langsung aktif + hukuman baru.
Secara hukum FIFA: Tidak melanggar.
Alasannya: Regulasi Kompetisi Pasal 7.1 berbunyi: Semua pelanggaran disiplin ditangani oleh Komisi Disiplin FIFA (Disciplinary Code). Dan Article 27 ada di Disciplinary Code, jadi dia “lebih tinggi” dari Pasal 66.4 yang berbunyi skors otomatis.
Persoalan muncul karena ada pihak yang dirugikan. Dalam hal ini tentu saja Belgia lawan Amerika di 16 besar. Maka tak heran Belgium FA marah. : Keputusan ini bertentangan langsung dengan Regulasi Kompetisi + Circular No. 16. Mereka bahkan mengancam akan menggugat.
Presiden DFB Jerman yang timnya telah gugur, juga meminta klarifikasi soal dugaan intervensi politik. “Bagi kami sangat aneh keputusan itu keluar hanya 30 jam sebelum laga vs Belgia, di fase 16 besar. Apalagi setelah kabar telepon Trump ke Infantino menyebar,” katanya.
Dikecam
Meski FIFA tidak melanggar AD/ART-nya sendiri karena Article 27 memang ada dan sah dipakai. Hanya saja, ini pertama kali dipakai untuk mencabut skors kartu merah di Piala Dunia, jadi kesannya “selektif” dan membuka celah bahwa FIFA (Infantimo) bermain politik praktis.
Sepp Blatter, mantan Presiden FIFA, secara terbuka menyatakan: “Kartu merah tidak dapat dibatalkan hanya karena panggilan telepon dari kalangan politik, ” katanya.
Sepakbola tidak boleh menjadi arena perebutan kekuasaan politik. FIFA adalah organisasi independen, dia tidak boleh tunduk pada kepentingan politik tertentu. Apalagi jelas-jelas dipakai sebagai panggung politik.
Bukan hanya Presiden Persatuan Sepakbola Belgia, Jerman, dan Blatter, kecaman datang dari banyak pihak. Meski secara regulasi FIFA sangat mungkin tidak salah, tapi perlakuan istimewa untuk Amerika ini telah mencederai segalanya. FIFA sejak dideklarasikan di Paris oleh Robert Guerin, 21 Mei 1904, dengan mengedepankan peraturan yang harus dipatuhi, ternyata telah dicedrai oleh Infantino.
Ya, hanya Infantinolah Presiden FIFA sering keluyuran ke tempat-tempat di mana oleh oara pendahulunya tabu untuk dilakukan. Infantino sangat sering bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara.
Iya juga Presiden FIFA pertama yang menerima uang puluhan juta dolar Amerika untuk pembangunan sepakbola Palestina dari tangan Donald Trump. Berkali-kali, ia juga menerima telpon dari Trump, salah satunya melahirkan ketidakadilan bagi seluruh anggota FIFA.


















































