Masjid Juma: Eksistensi Islam di Ibukota Tbilisi Georgia

8 hours ago 3

SHNet, Thibilisi-Jika anda seorang muslim dan tengah bepergian ke luar negeri, pertanyaan yang selalu muncul di kepala adalah dimana lokasi mesjid di kota yang dikunjungi.  Dengan mengetahui posisi masjid tersebut akan memudahkan anda untuk mencari restoran atau makanan halal, menjalankan sholat/ibadah ataupun mencari sahabat muslim di kota tersebut.

Di ibukota Tbilisi, Georgia tepatnya di salah satu sudut Kota Tua, berdiri megah satu satunya bangunan masjid di ibukota negara Euro Asia ini.  Jika dari centrum atau pusat kota,  tempat ibadah ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 20 menit perjalanan.  Masjid Juma, namanya dan bangunan ini terlihat mencolok karena adanya sebuah minaret (menara) yang menjulang sebagai bagian utama dari bangunan ibadah muslim.

Masjid ini menjadi satu-satunya rumah ibadah Muslim di Ibukota Georgia.  Menariknya masjid ini memiliki sejarah panjang dan juga keunikan tersendiri.  Bangunan mesjid pertama kali dibangun pada tahun 1723-1735 oleh Muslim Suni Ottoman Turki.  Namun kemudian dihancurkan oleh pendudukan Persia pada tahun 1740-an.  Pada tahun 1850-an bangunan masjid dibangun kembali oleh arsitek Giovanni Scudieri, namun baru berhasil direnovasi sempurna berkat bantuan donasi dari dermawan kaya raya asal Azerbaijan Hajizinelabdin Tagiyev pada tahun 1895.

demikian laporan yang dikirim oleh Taufiq Lamsuhur, Kepala Kantor Ekstensi Indonesia di Tbilisi, Georgia (Minister Counsellor, KBRI Kiev) kepada SHNet, Senin (09/03/2026).

Yang tidak kalah menarik kata Taufiq adalah di masjid ini kelompok Islam Suni dan Syiah dapat beribadah bersama, sebagai bentukan kerukunan kelompok Islam yang selama ini dianggap berbeda ribuan keislamannya. Dulunya, di dalam mesjid kedua kelompok dipisahkan dengan kain hitam namun saat ini batas pemisah itu tidak lagi terlihat.

Taufiq Lamsuhur pertama kali mengikuti sholat Jumat di Masjid Juma ini pada tanggal 20 Februari 2026.  Mengantisipasi sulit mendapatkan spot di dalam masjid, penulis datang lebih awal sekitar pukul 12.00 meskipun Jumatan dimulai pukul 13.05.  Setelah turun dari taksi,  kita perlu berjalan dengan tanjakan yang cukup tajam, yang merupakan jalan utama menuju masjid.  Jalan ini sebenarnya adalah jalan raya menuju Benteng Narikala yang berada di titik tertinggi Kota Tua. Karena akan ada sholat Jumatan, jalan ini sementara ditutup, mungkin antara pukul 11.00-14.00.

Saat masuk masjid dan akan memulai sholat tahjatul masjid, penulis terlebih dahulu melihat para jemaah yang telah hadir untuk melihat gerakan sholat mereka karena ada kegamangan ada gerakan yang berbeda karena berdasarkan bacaan di media umumnya muslim di mesjid ini menganut faham Hanafi sementara jamaah Indonesia umumnya Safii.  Akhir penulis memilih untuk langsung duduk dan membaca Alquran aja.


Jalan utama yaitu Botanikuri No. 32 menuju masjid dari jalan besar.

Azan Mirip dengan di Indonesia

Rupanya betul, jumlah jamaah membludak,  sekitar 250 jamaah dalam waktu singkat memenuhi bagian dalam  dan masih terdapat sekitar 100 jamaah yang kemudian akhirnya memilih sholat di jalan atau pelataran di luar mesjid.  Dan yang mencengangkan adalah,  azan dikumandangkan dengan irama yang hampir mirip dengan azan-azan di Indonesia, sungguh menakjubkan.   Setelah azan, lalu khotbah, yang disampaikan hanya dalam bahasa setempat sehingga penulis hanya mencoba mendengar dan sesekali mencoba memahami isi khotbah dengan memperhatikan ayat-ayat Alquran dan sunnah Nabi yang dijadikan rujukan dalam materi khotbah.

Alhamdulillah, sholat Jumat berhasil ditunaikan dan ada rasa bangga sebagai muslim yang punya keluarga besar dimanapun berada di dunia ini, termasuk di Tbilisi. Georgia.

Sesampai di kediaman, penulis mencoba mencari-cari informasi mengenai jumlah umat Islam di Georgia.  Rupanya dalam beberapa literasi daring yang ada, disebutkan jumlahnya sekitar 9-11% dari total penduduk Georgia yang berjumlah sekitar 3,5 juta.  Jadi tercatat ada sekitar 350 ribu Muslim di Georgia dan umumnya adalah turunan Azerbaijan dan Turki serta para pekerja migran yang didominasi warga negara India.

Bangganya menjadi umat Islam Indonesia!!!! (sur)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan