Shingles Action Week 2026, Saatnya Beraksi Cegah Cacar Api Tanpa Tapi

4 hours ago 8

SHNet, Jakarta – Kampanye Shingles Action Week 2026 resmi digelar dengan pesan kuat: pencegahan cacar api bukan lagi pilihan, melainkan langkah penting untuk menjaga kualitas hidup masyarakat. Mengusung tema “Cegah Cacar Api Tanpa Tapi”, kegiatan ini berlangsung di Wayang Bistro, Kota Kasablanka, Selasa (28/04/2026).

Director of Market Access, Communication and Government Affairs GSK Indonesia, Reswita Dery Gristiani, menegaskan bahwa momentum ini bertepatan dengan Pekan Imunisasi Dunia. Kementerian Kesehatan RI dalam memperingati pekan imunisasi dunia mengusung tema imunisasi sepanjang usia.

Menurutnya, persepsi bahwa imunisasi hanya untuk anak-anak harus diubah. “Imunisasi adalah investasi kesehatan jangka panjang. Setiap Rp1 yang dikeluarkan untuk imunisasi dapat memberikan manfaat hingga enam kali lipat. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk melakukan pencegahan sejak dini,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa cacar api masih sering disalahpahami di masyarakat. Penyakit ini dikenal dengan berbagai sebutan seperti cacar ular, dompo, hingga penyakit yang dikaitkan dengan hal mistis. Padahal, cacar api disebabkan oleh virus varisela yang sama dengan penyebab cacar air, yang dapat “tidur” dalam sistem saraf dan aktif kembali saat daya tahan tubuh menurun.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadya Tarmizi, menjelaskan bahwa virus varisela tidak pernah benar-benar hilang dari tubuh. Saat imunitas melemah—akibat stres, penyakit penyerta, atau faktor usia—virus ini dapat aktif kembali menjadi cacar api.

“Masyarakat sering menganggap cacar api sebagai penyakit ringan. Padahal, dalam kondisi tertentu bisa berdampak serius, bahkan memicu gangguan pada organ vital seperti jantung,” jelasnya.

(Dok. SHNet/Stevani)

Ia menambahkan, upaya pencegahan melalui vaksinasi menjadi langkah penting, terutama sebelum usia 50 tahun. Selain melindungi dari cacar api, pendekatan preventif ini juga berkontribusi dalam menekan risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi dan penyakit jantung.

Bisa menyerang jantung

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI), dr. Ade Median Ambari, Sp.JP, FIHA, mengungkapkan besarnya beban pembiayaan penyakit kardiovaskular di Indonesia.

“Sekitar Rp22 triliun dana BPJS terserap untuk penyakit kardiovaskular. Karena itu, pencegahan faktor risiko, termasuk infeksi seperti cacar api, menjadi sangat penting agar tidak memperburuk kondisi pasien,” katanya.

Hal senada disampaikan Ketua Komunikasi Yayasan Jantung Indonesia, Iwet Ramadhan. Ia mengingatkan bahwa cacar api bukan sekadar masalah kulit, melainkan berkaitan erat dengan kesehatan pembuluh darah.

“Sebuah study terhadap 500 ribu orang menunjukkan risiko stroke meningkat hingga 35 persen pada penderita cacar api. Ini bukan karena virus langsung menyerang jantung, tetapi akibat peradangan pada pembuluh darah,” jelasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak mengandalkan informasi yang tidak valid. “Jika mengalami gejala, segera konsultasikan ke dokter. Jangan hanya mencari informasi dari internet atau cerita sekitar,” tegasnya.

Melalui kampanye ini, masyarakat diajak untuk lebih mengenal dan mewaspadai cacar api melalui gerakan “KeCapi – Kenali Cacar Api”. Shingles Action Week 2026 pun diharapkan menjadi lebih dari sekadar seremoni, melainkan gerakan kolektif untuk meningkatkan kesadaran, melakukan pencegahan, dan melindungi diri dari risiko penyakit yang lebih serius, termasuk gangguan kardiovaskular. (Stevani Elisabeth)

Read Entire Article
Kendari home | Bali home | Sinar Harapan