SHNet, Tangerang – Indonesia terus memperkuat layanan fertilitas untuk menjawab tingginya kebutuhan pasangan yang menghadapi masalah infertilitas. Langkah terbaru dilakukan PT Morula Indonesia dengan membuka Morula International Fertility Clinic (Morula IFC) di Biomedical Campus, BSD City, Tangerang, Banten.
Peresmian Morula IFC sekaligus menjadi momentum dimulainya kemitraan strategis Morula Indonesia dengan Monash University melalui Education Program in Reproduction and Development (EPRD). Kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun registri longitudinal hasil program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) dari jaringan klinik fertilitas Morula di seluruh Indonesia.
Peresmian dihadiri Prof. Dr. Dante Saksono Harbuwono dari Kementerian Kesehatan. Ia mengapresiasi kehadiran Morula IFC sekaligus kerja sama dengan Monash University yang dinilai dapat memperkuat kualitas layanan fertilitas di Indonesia.
“Harapannya fasilitas ini dapat menarik lebih banyak pasien internasional, seperti dari Australia dan Singapura. Bahkan bisa menjadi pusat pelatihan,” ujar Dante.
Menurutnya, persoalan infertilitas di Indonesia cukup besar. Diperkirakan sekitar 4–5 juta masyarakat Indonesia menghadapi masalah infertilitas.
Selama ini, sebagian pasien Indonesia memilih menjalani layanan fertilitas di luar negeri, termasuk Singapura dan Malaysia. Karena itu, penguatan fasilitas dan sumber daya layanan fertilitas di dalam negeri dinilai penting agar masyarakat tidak harus pergi ke luar negeri untuk mendapatkan layanan tersebut.
“Di Indonesia ada 11 klinik fertilitas. Sehingga kita tidak perlu keluar negeri, tetapi pasien dari luar juga bisa datang berobat ke sini,” katanya.
Dante menambahkan, persoalan infertilitas di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri karena terdapat faktor dan kondisi lokal. Pemerintah, kata dia, terus menyusun regulasi agar layanan fertilitas dapat berkembang secara lebih luas di berbagai daerah.
Tak Sekadar Kehamilan
CEO PT Morula Indonesia sekaligus Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk, Dr. Ivan Rizal Sini, mengatakan Morula memiliki tanggung jawab untuk terus memantau dan meningkatkan kualitas hasil program bayi tabung yang dijalankan.
Melalui kerja sama dengan Monash University, Morula akan mengembangkan basis data yang memungkinkan hasil IVF dipantau secara lebih menyeluruh, termasuk melihat perjalanan embrio dari proses pengambilan sel telur hingga kelahiran hidup.
“Infertilitas itu penyakit. Layanan program fertilitas terus berkembang. Kami bekerja sama dengan Monash University untuk mengukur bayi-bayi sehat yang lahir melalui program bayi tabung. Kami sebagai provider terbesar di Indonesia punya tanggung jawab,” ujar Ivan.
Menurut Ivan, keberhasilan layanan fertilitas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan kehamilan. Setidaknya terdapat empat aspek penting yang harus diperhatikan, yakni kualitas tenaga medis, aksesibilitas, informasi dan edukasi, serta pembiayaan.
Registri Morula–Monash akan menggunakan pendekatan complete ART cycle. Dalam satu siklus IVF, satu kali stimulasi ovarium dan pengambilan sel telur dapat menghasilkan beberapa embrio yang kemudian ditransfer melalui prosedur fresh embryo transfer maupun frozen embryo transfer pada waktu berbeda.
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan tidak hanya dilihat dari angka kehamilan pada setiap transfer embrio, tetapi ditelusuri hingga hasil akhir berupa kelahiran hidup.
Basis data tersebut secara bertahap akan mengkaji angka kelahiran hidup kumulatif dari satu siklus ART lengkap, hasil fresh embryo transfer dan frozen embryo transfer, hasil pada berbagai kelompok pasien, serta waktu dan jumlah tahapan perawatan yang diperlukan hingga mencapai kelahiran hidup.
Dr. Mulyoto Pangestu, dosen EPRD Department of Obstetrics and Gynaecology, School of Clinical Sciences, Monash Health, Faculty of Medicine, Nursing and Health Sciences, Monash University, mengatakan ukuran keberhasilan IVF perlu dilihat dari keseluruhan perjalanan perawatan.
“Bagi pasien, pertanyaan yang penting bukan hanya apakah suatu transfer embrio menghasilkan kehamilan, tetapi juga seberapa besar kemungkinan pada akhirnya mencapai kelahiran hidup setelah menjalani keseluruhan rangkaian perawatan,” ujar Mulyoto.
Ivan menambahkan, kehamilan memang merupakan tahapan penting dalam program fertilitas, tetapi tujuan akhir pasien adalah memiliki bayi.
“Kehamilan merupakan sebuah tahapan penting, tetapi pada akhirnya keluarga menjalani perawatan fertilitas dengan harapan dapat memiliki seorang bayi. Melalui kerja sama dengan Monash University, kami berharap dapat berkontribusi dalam menghadirkan bukti yang lebih kuat, transparansi yang lebih baik, serta layanan fertilitas yang didukung oleh informasi yang lebih baik di Indonesia,” tuturnya.
Layanan Fertilitas Bertaraf Internasional
Morula IFC dibangun berdasarkan pengalaman 28 tahun Morula dalam memberikan pelayanan fertilitas di Indonesia. Klinik seluas sekitar 1.200 meter persegi tersebut berada di kawasan Banten International Education, Technology and Health Special Economic Zone (SEZ) di BSD City.
Kehadiran Morula IFC memperluas akses layanan fertilitas tingkat lanjut bagi masyarakat Tangerang Raya, Banten, dan wilayah Jabodetabek bagian barat.
Laboratorium klinik dipimpin Audrey Wei, Scientific Director sekaligus klinis embriologis asal Australia dengan pengalaman internasional lebih dari 20 tahun, bersama Prof. Arief Boediono selaku Group Scientific Director Morula Indonesia.
Klinik ini juga melibatkan Dr. Lihong Geng, Chief Medical Quality Control Officer dari Jinxin Fertility Group yang tercatat di bursa Hong Kong, sebagai bagian dari jaringan internasional Morula.
Dukungan tenaga profesional juga datang dari berbagai negara, termasuk Australia, Tiongkok, India, Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat. Morula IFC menyediakan layanan multibahasa dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, Jepang, dan Vietnam.
Layanan klinik mengadopsi konsep Morula 360° Fertility Care, yakni model layanan terkoordinasi dan berpusat pada pasien yang mengintegrasikan tim medis, keperawatan, embriologi, farmasi, serta dukungan pasien sejak konsultasi pertama hingga seluruh proses perawatan.
Fasilitas tersebut dilengkapi laboratorium IVF di lokasi, fasilitas penyimpanan kriopreservasi yang dipantau selama 24 jam, serta ruang konsultasi, konseling, dan ruang tunggu yang dirancang untuk memberikan privasi dan kenyamanan pasien.
Deputy CEO Morula Indonesia, Naveen K. Mantha, mengatakan konsep internasional yang dibangun Morula IFC bukan semata-mata mengenai asal tenaga ahli yang terlibat.
“Menjadi internasional bukan hanya tentang dari mana keahlian kami berasal. Hal ini berarti menggabungkan pengalaman global dan standar operasional yang kuat dengan pemahaman yang mendalam mengenai keluarga Indonesia, serta memberikan kualitas tersebut secara konsisten di setiap tahapan perjalanan fertilitas,” jelasnya. (Stevani Elisabeth)


















































