kendaripos.co.id —
“Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukupmenghidupimu.
Tiada badai, tiada topan kau temui, ikan dan udangmenghampiri dirimu.”
Koes Plus
Lirik legendaris Koes Plus ini sejak lama kita nyanyikan sebagaigambaran tentang ruang hidup yang memberi kesejahteraan bagisemua. Sebuah ekosistem yang kaya, tenang, dan cukup untukmenghidupi siapa pun yang mengelolanya dengan adil. Namundalam realitas industri musik hari ini, “kolam susu” itu justrukerap berubah menjadi ruang konflik, ketika pencipta merasahak ekonominya tidak terlindungi, pelaku pertunjukan dihantuiketidakpastian izin, dan pelaku usaha berada di antara kewajibanhukum dan keterbatasan akses informasi.
Apa yang dialami T’Koes Band menjadi potret nyata dari situasitersebut. Lagu-lagu yang selama puluhan tahun hidup dalamingatan kolektif publik mendadak tidak lagi dapatdipertunjukkan, meskipun upaya untuk memperoleh lisensi dan membayar royalti telah dilakukan melalui lembaga yang berwenang.


















































