balitribune.co.id | Semarapura - Ashram Gandhi Puri Sevagram, Klungkung, Bali, memperingati 29 tahun perjalanannya pada 6 September 2026, bersamaan dengan Shantisena Sangha Jayanti. Peringatan tahun ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan 99 tahun kunjungan penyair besar India sekaligus peraih Nobel Sastra, Rabindranath Tagore, ke Bali pada 1927.
Bagi Ashram Gandhi Puri, kunjungan Tagore bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan tonggak perjumpaan antara India dan Indonesia melalui pendidikan, kebudayaan, spiritualitas, seni, dan kemanusiaan. Semangat tersebut kini kembali dihidupkan melalui Rabindranath Tagore Bhavan di Ashram Gandhi Puri Sevagram.
Pengasuh Ashram Gandhi Puri, Ida Rsi Putra Manuaba, menyatakan bahwa mengenang Tagore berarti membawa kembali nilai-nilai yang relevan bagi generasi muda saat ini.
"Kita tidak hanya ingin mengenang Tagore sebagai tokoh sejarah yang pernah datang ke Bali. Kita ingin menghidupkan kembali nilai-nilai yang beliau bawa pendidikan, kebudayaan, kemanusiaan, dan kebebasan jiwa untuk generasi muda hari ini," ujar Ida Rsi Putra Manuaba, Minggu (6/9/2026).
Selama 29 tahun, Ashram Gandhi Puri bertumbuh dengan mengusung tiga teladan utama, yaitu Mahatma Gandhi dengan Truth and Action, Rabindranath Tagore dengan Education, Culture and Humanity, serta Acharya Vinoba Bhave dengan Service and Social Transformation.
Perjalanan ini kini memasuki babak baru melalui transisi dari Self Project ke Sevagram Initiative. Melalui inisiatif ini, para Shantisena sebutan bagi warga ashram dididik bukan hanya untuk mengembangkan diri, tetapi untuk kembali ke masyarakat dan menjadi sumber kekuatan bagi desa mereka.
Rangkaian peringatan ini juga diisi dengan Dialog Renungan Kemanusiaan yang menghadirkan Dr. Wayan Sayoga, Dr. Nyoman Miyoga, dan Dr. Suyoga. Para pembicara mengajak generasi muda untuk menerapkan prinsip Read, Reflect, Live, and Serve (membaca, merenungkan, menjalani, dan melayani).
Memasuki tahun ke-30, Ashram Gandhi Puri terus mengusung semangat Dust to Diamond, sebuah keyakinan bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk ditempa menjadi pribadi yang bernilai dan bermanfaat bagi sesama.
"Kita mungkin memulai dari debu, tetapi jangan berhenti sebagai debu. Setiap manusia memiliki kesempatan untuk ditempa menjadi berlian," pesan Ida Rsi Putra Manuaba, penerima International Jamnalal Bajaj Award 2011 dan Padma Shri Award 2020.


















































