KENDARIPOS.CO.ID-Lebaran Idulfitri tinggal menghitung hari. Pucuk dicinta ulam pun tiba; wajah muda-mudi tampak berseri-seri. Pasalnya, kepulangan para perantau turut menghadirkan momen penuh suka cita. Di dalam tas, sering terselip amplop warna-warni berisi uang pecahan baru yang akan dibagikan kepada sanak saudara.
Pemandangan itu lazim terlihat usai salat Ied, ketika anak-anak berkumpul menyalami para orang dewasa yang baru datang dari rantau. Di antara jabat tangan dan ucapan maaf, seketika amplop kecil berpindah tangan seraya membawa makna kegembiraan sederhana yang tak jarang lebih berharga ketimbang nominalnya.
Tradisi memberi angpau sendiri bukan bagian dari ritual agama, melainkan kebiasaan sosial yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat. Sejumlah penelusuran budaya bahkan menunjukkan bahwa praktik ini merupakan hasil akulturasi panjang yang berakar dari budaya Tionghoa dan kemudian beradaptasi dalam perayaan lokal di Indonesia.
Seperti halnya umat Muslim yang menantikan kemunculan hilal sebagai penanda datangnya bulan baru, tradisi angpau Lebaran juga seolah memiliki “hilalnya” sendiri: tanda-tanda kecil yang mengingatkan bahwa hari raya semakin dekat.
Tradisi Berbagi Uang Baru
Beberapa pekan sebelum Idulfitri, di halaman masjid, pelataran bank, hingga titik kas keliling di ruang publik, antrean masyarakat mulai mengular sejak pagi. Tujuannya tentu menukar uang baru yang masih kaku dan rapi untuk dibagikan sebagai angpau Lebaran.
Kebiasaan ini bukan hanya perkara menukar uang, melainkan bagian dari tradisi berbagi yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Lembaran rupiah yang baru dianggap lebih pantas dan lebih berkesan ketika diberikan kepada anak-anak saat bersilaturahmi di hari raya.
Peristiwa tersebut kembali terlihat saat pelaksanaan program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI) 2026 yang digelar oleh Bank Indonesia bersama perbankan di Sulawesi Tenggara. Dalam program tersebut, sekitar 11.400 paket penukaran uang disiapkan bagi masyarakat. Antusiasmenya tinggi. Layanan kas keliling di sejumlah titik, seperti kawasan Masjid Al-Alam Kendari, Tugu Religi Sultra, hingga Masjid Al Muqqarrobun, dipadati warga yang ingin mendapatkan uang pecahan baru.
Untuk menjaga ketertiban distribusi, masyarakat kini diminta melakukan pemesanan terlebih dahulu melalui aplikasi PINTAR milik Bank Indonesia sebelum datang ke lokasi penukaran. Sistem ini dirancang agar penyaluran uang lebih merata sekaligus mengurai antrean fisik di berbagai titik lokasi.
Namun, tingginya antusiasme masyarakat sering kali melampaui kapasitas layanan yang tersedia. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebutuhan berbagi menjelang Lebaran tetap sangat tinggi, sementara cara masyarakat memenuhinya masih sangat bergantung pada uang fisik. Kondisi ini memunculkan paradoks di era pembayaran digital: apakah tradisi berbagi harus selalu hadir dalam lembaran uang kertas, atau justru sedang menanti wujud barunya?
Tren Uang Kartal ke Dompet Digital
Dalam beberapa tahun terakhir, cara masyarakat bertransaksi perlahan namun pasti terdisrupsi. Dompet elektronik, transfer instan, hingga aktivitas pembayaran menggunakan QRIS kini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Membeli kopi, membayar parkir, hingga berbelanja di warung kecil semakin sering dilakukan tanpa uang tunai, dengan ponsel perlahan mengambil peran yang dulu dipegang dompet.
Dalam ekonomi digital, fenomena ini sering dijelaskan melalui konsep network effect, yaitu ketika nilai sebuah sistem pembayaran meningkat seiring bertambahnya jumlah pengguna dalam ekosistemnya. Semakin banyak merchant menerima pembayaran cashless dan semakin banyak konsumen yang terbiasa memindai QRIS, semakin besar pula manfaat sistem tersebut bagi semua pihak.
Efek ini bekerja seperti pasar tradisional: semakin banyak pedagang membuka lapak, semakin ramai pembeli datang, lalu keramaian itu justru menarik lebih banyak pedagang untuk ikut bergabung. Dinamika semacam ini membuat ekosistem pembayaran digital tumbuh semakin cepat seiring meningkatnya akseptasi pengguna.
Ekosistem tersebut semakin kuat dengan ekspansi ritel modern. Secara nasional, jumlah minimarket telah melampaui 85 ribu gerai pada 2025, meningkat hampir 20 persen dalam lima tahun terakhir. Bak gayung bersambut, di Sultra sendiri hampir setiap kasir kini menyediakan metode pembayaran QRIS. Infrastruktur pembayaran digital pun semakin matang, seolah menyibak tabir bahwa “hilal baru” tradisi angpau kian nyata dalam lanskap ekonomi digital.
Tantangan Emosional Angpau Digital
Meski terdengar praktis, gagasan angpau non-tunai tidak serta-merta diterima sepenuh hati. Ada serpihan makna yang mungkin hilang ketika uang tidak lagi berpindah tangan secara langsung. Sensasi membuka amplop dan memegang uang baru telah lama menjadi bagian dari pengalaman emosional Lebaran bagi banyak keluarga.
Dalam perspektif ekonomi perilaku, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep mental accounting yang diperkenalkan oleh peraih Nobel Ekonomi Richard Thaler. Manusia cenderung memberi “label psikologis” pada uang sesuai konteksnya. Uang THR, uang Lebaran, atau angpau memiliki makna emosional yang berbeda dari uang yang sama nilainya di rekening bank.
Karena itu, ketika uang diberikan dalam bentuk fisik melalui amplop, pengalaman berbagi terasa lebih nyata dan personal. Dari sudut pandang antropologi, praktik ini juga berkaitan dengan ritual gift exchange, yakni tradisi saling memberi yang memperkuat hubungan sosial serta membawa pesan perhatian dan kedekatan di antara pemberi dan penerima.
Menariknya, generasi yang lebih muda mulai mengalami pergeseran perspektif. Bagi sebagian anak muda, hadiah dalam bentuk saldo dompet digital justru terasa lebih praktis karena dapat langsung digunakan untuk berbagai transaksi. Perubahan ini menunjukkan bahwa makna angpau sebenarnya tidak berubah; yang berubah hanyalah medianya.
Kebiasaan Baru Berbagi Angpau
Transformasi kebiasaan sosial memang tidak terjadi dalam semalam. Tradisi yang telah hidup lama biasanya membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Angpau sendiri adalah contoh tradisi yang terus berevolusi: bermula dari koin yang diikat benang, menjadi amplop berisi uang kertas, kemudian menyatu ke dalam corak budaya lokal.
Kini, perkembangan pembayaran digital membuka kemungkinan baru bagi tradisi tersebut. Angpau non-tunai tidak harus menggantikan sepenuhnya tradisi lama, tetapi dapat menjadi alternatif yang lebih praktis di tengah perubahan perilaku transaksi masyarakat. Tradisi itu sejatinya tidak pernah berhenti; ia hanya berubah bentuk mengikuti arus zaman, seperti air yang tetap mengalir meski wadahnya berganti.
Pada akhirnya, esensi angpau Lebaran tetaplah sederhana: berbagi kebahagiaan. Entah melalui amplop berisi uang kertas atau melalui transfer digital di layar ponsel, pesan yang disampaikan tetap sama, bahwa rezeki terasa lebih bermakna ketika dibagikan kepada orang lain.
Mungkin kelak anak-anak tidak lagi menunggu amplop di ruang tamu setelah salat Ied, melainkan denting lonceng notifikasi saldo di gawai mereka. Namun, selayaknya pepatah lama mengatakan, tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan, nilai berbagi dalam tradisi Lebaran akan tetap hidup, walau cara menyampaikannya terus berubah seiring waktu.
Dan mungkin, seperti menunggu kemunculan hilal di ufuk senja, masa depan tradisi angpau Lebaran juga sedang menampakkan rupanya di ujung cakrawala. (*)


















































